Breaking

Selasa, 13 Februari 2018

Nikmatnya Ngeseks Bareng Tante Sendiri

Agencabul.com - Nikmatnya ngentot dengan tante sendiri yang dimana adalah istri om ku yang adik dari ayahku. Namun mau bagaimana lagi,jika kucing dikasih ikan asin ya mana mau nolak,hehe..




Nikmatnya Ngeseks Bareng Tante Sendiri 


Suatu pagi saat aku masih tidur, telpon HP ku berbunyi dan aku yang masih dengan mata tertutup mengangkat HP ku, ternyata adalah Om Feri yang menelponku. “Ben, kamu beberapa hari ini sibuk gak??” tanya om Feri. “Kayaknya Enggak om, emang kenapa om??” tanyaku balik. “Om mau minta tolong niiih, bisa gak???” tanya om Feri. “Eeeemmm….Minta tolong apa om?? Kalau aku bisa pasti aku bantu om” jawabku. “Om minta kamu menginap dirumah om karena om mau keluar kota selama beberapa hari, kamu temenin Tante Diana dan Eka dan Eva ya Ben,
bisa gak??” taya om Feri. “Eeeemmm….Bisa deeh om, aku kerumah om kapan, nanti apa sekarang
om??” tanyaku. Booking Cewek Online?

“Sekarang aja Ben, karena om sebentar lagi mau berangkat dan om juga sudah
ngomong sama tantemu kok, kalau kamu yang akan menemaninya” jawab om Feri. “Okkee…Deeeh
om, aku mandi dulu, nanti aku terus kerumah om” jawabku. “Makasih ya Ben, kamu memang
keponakanku yang paling baik, nanti jika om sudah berangkat kamu tinggal masuk aja ya Ben”
ucap om Feri. “Iyha om” jawabku singkat.

Setelah menutup telpon dengan mata yang masih berat, aku pun bergegas menuju kamar mandi
untuk mandi. Didalam kamar mandi aku sempat membayangkan yang tidak-tidak, aku
membayangkan tubuh bahenol tante Diana, kubayangkan pantatnya yang semok aku remas-remas,
kujilati memek tante Diana sampai tante Diana ngecrot, penisku dikulum tante Diana, membuat
penisku menegang dan Aaarrgghhh akhirnya aku membasahi tubuhku dengan air, hingga
bayanganku tentang tante Diana hilang dengan seketika.

Tak lama aku selesai mandi, dan aku pun bergegas ganti baju dan langsung menuju rumah om Feri. Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya aku sampai dirumah om Feri. Dan ternyata om Feri sudah berangkat lalu aku disambut oleh tante Diana. Pemandangan indah seketika pun aku dapatkan, baju ketat dan super seksi menghiasi tubuh tante Diana sehingga bentuk lekuk-lekuk tubuh tante Diana
menjadi terlihat, dan bahkan gBen-gBen CD tante Diana kelihatan karena roknya yang sangat
ketat. Sejenak aku menelan ludah sebelum akhirnya tante Diana membuyarkan pemandanganku
itu.

“Ben tante minta tolong kamu antar Eka dan Eva kesekolah yaaa” pinta tante Diana. “Okkee
deeh tante” jawabku singkat. Lalu aku mengajak kedua anak tante Diana yang masih kecil
kemobil, dan aku pun mengantarkannya kesekolah. Diperjalanan aku mengantar Eka dan Eva,
kembali aku teringat kemolekan tubuh tante yang tadi aku lihat. Aku tak kuasa menahan
nafsuku hingga dalam perjalanan batang Penisku menengang sehingga kelihatan dari luar
celanaku karena penisku yang lumayan besar. Untungnya aku mengantarkan anaknya tante Diana,
jika yang kuantarkan adalah tante Diana bisa-bisa aku langsung menubruknya “pikiran kotor
itu yang terus mengganguku selama dalam perjalanan”.

Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Diana. Setelah
parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya.
Tante Diana masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama,
setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku
hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur.
Aku menuju ke pintu kamar mandi,
sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu
ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku
terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Diana tanpa ada
sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air
di kulitnya.


BACA JUGA : Cerita Dewasa Enaknya Ngentot Dengan Ibu Yang Haus Seks


Ternyata tante Diana sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya berganEkan kiri dan kanan.
Terdengar suara desahan lirih, “hmhmhmhmmmm, ohh, arhh”. Kulihat tanteku melentingkan
tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina.
Rupanya tante Diana ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air
ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis
pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Diana, membuatku
tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Diana berhubungan badan denganku. “Lho Ben, kamu
lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti
aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Diana mengagetkan aku.

“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.”
Celetuk tante Diana sambil masuk kamar. Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi
aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Diana berangkat kerja, aku sendirian
di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu
masuk kamar tante dan langsung tidur. “hmhmhmhmmmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut,
karena tante Diana sudah berbaring disebelahku sambil tangannya memegang Penis dari luar
sarung. “Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan
pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Penis menegang 90%. “Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok”, dengan alasan sakit.

Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang. Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa
dia tidak masuk kerja. “Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur
tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga CD kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan
pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Penis mu” Tante terus saja nyerocos untuk
menjelaskan kelakuannya. “Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Ben tahu kok kalau tante
tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya. “Lho, jadi kamu..” Tante kaget
dengan mimik setengah marah. “Iya, tadi Ben ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah
kan?” agak takut juga aku kalau dia marah. Tante diam saja dan suasana jadi hening selama
lebih kurang sepuluh menit.

Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Penis di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku.

Tante jadi salah tingkah. “Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua
bukit kembarnya. “Emm.., nggak kok tante. Maafin Ben ya.” aku semakin salah tingkah. “Lho
kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya tanteku dengan mimik keheranan. “Maksud Ben,
nggak salahkan kalau Ben pingin pegang ini..!” Sambil aku tarik bahu tante ke tempat
tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.

Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan. “Eh, nakal juga kamu ya.. ihh
geli Ben.” tante Diana merengek perlahan. “hmhmhmhmmmm..shh” tante semakin keras mendesah
ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya. Rok yang
menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi
gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Diana.
Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap
kami lakukan dibarengi dengan rabaan di sekap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan
tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras. “hmhmhmhmmmm, boleh
juga nih. Taruhan Bola

Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.” tante mengagumi Penis yang belum pernah
dilihatnya. “Ya sudah dibuka saja tante.” pintaku. Lalu tante melepas celanaku, dan ketika
tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum. “Wah, rupanya tante punya Penis
lain yang lebih gedhe.” Gila tante Diana ini, padahal Penisku belum besar maksimal karena
terhalang CD. Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku
sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia
sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Penis yang berdiri
dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

“Tante.. ngapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini
mengagetkannya. “Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?” agak tergagap juga
tante merespon pertanyaanku. “Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante
merinding” sambil tersenyum dia ngoceh lagi.

Tante masih terkesima dengan Penisku yang mempunyai panjang 17cm dengan diameter 6cm.
“Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Penisku.” Aku
ingin agar tante memulai ini secepatnya. “hmhmhmhmmmm, iya deh.” Lalu tante mulai menjilat
ujung Penis Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari
ujung sampai pangkal Penis “Ahh.. enak tante, terusin hh.” aku mulai meracau. Lalu aku
tarik kepala tante Diana sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan
ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini
berusaha untuk melepas CD tante Diana. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting
susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu.

Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga. “Ayo Ben, kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.” Sambil tangan tante mengusap vaginanya. “OK tante” aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
“Shh.. ohh” tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitoBennya dengan ujung lidahku.
“Hh.. mm.. enak Ben, terus Ben.. yaa.. shh” tante mulai berbicara tidak teratur. Semakin
dalam lidahku menelusuri Evang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Diana.
“Ahh..Ben..shh..Benr aku mau keluar.” tante mengerang dengan keras. “Ahh..” erangan tante
keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang. Rupanya tante sudah mencapai
puncak.

Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan
perasaan enaknya. “hmhmhmhmmmm..kamu pintar Ben. Gak rugi tante punya keponakan seperti
kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?” dengan
manja tante memeluk tubuhku. “Ehh, gimana ya tante..” aku ngomong sambil melirik ke Penis
ku sendiri. “Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya” tante sadar kalau Penisku masih berdiri
tegak dan belum puas. Dipegangnya Penis ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu
dengan lembut tante mulai mengocok Penis.

Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok. Ben, kok kamu belum keluar juga.
Wah selain besar ternyata kuat juga ya.” tante heran karena belum ada tanda-tanda mau
keluar sesuatu dari Penisku. Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke
lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Diana, lalu turun dari tempat tidur. Aku
jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. BerganEkan kiri-kanan, sampai akhirnya
dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot.
Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa
nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku
berdiri sambil memegang kedua pahanya.

Aku gesek-gesekkan ujung Penis ke vaginanya dari
atas ke bawah dengan pelan. Perlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau
tidak karuan. “Tante siap ya, aku mau masukin Penis” aku memberi peringatan ke tante.
“Cepetan Ben, ayo.. tante sudah gak tahan nih.” tante langsung memohon agar aku secepatnya
memasukkan Penis. Dengan pelan aku dorong Penis ke arah dalam vagina tante Diana, ujung
kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Penis
sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment
yang sangat enak.

Ben, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh” tante berbicara sambil merasa keenakan. “Ahh.. shh mm, tante ini cara Ben agar tante juga
merasa enak” Aku membalas omongan tante.
Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua
sisa Penis ke dalam vagina tante. “Ahh..” kami berdua melenguh. Kubiarkan sebentar tanpa
ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia
menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan
sodokan ke depan. Vagina tante Diana ini masih kencang, pada saat aku menarik Penis bibir
vaginanya ikut tertarik. “Plok.. plok.. plokk” suara benturan pahaku dengan paha tante
Diana semakin menambah rangsangan.

13 menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras “Ahh..
Ben tante nyampai lagi” Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke
depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Penis masih menancap dan
dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Diana, kami
melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di
Penis. “Tante, aku mau keluar nih, di mana?” aku bertanya ke tante. “Di dalam aja Ben,
tante juga mau lagi nih” sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun. Urutan
vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol. “Arghh..
tante aku nyampai”. “Aku juga Ben.. ahh” tante juga meracau. Aku terus semprotkan cairan
hangat ke vagina tante.

Setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami
berciuman dengan mesra. Ben, kamu hebat.” puji tante Diana. “Tante juga, vagina tante rapet
sekali” aku balas memujinya. Ben, kamu mau kan nemani tante selama om pergi” pinta tante.
“Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” aku
balik bertanya. “Gak apa-apa Ben, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang” Tante
membalas sambil tangannya mengelus dadaku. Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan
berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan
kami raih.Agen Judi Online

Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi. Itulah
pengalamanku dengan tante Diana. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur
empat puluhan-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan
tante-tante. Rupanya tante Diana menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya ,
karena teman tante Diana pada penasaran dengan diriku seringkali aku di kejar kejar dengan
cara yang berbeda beda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar