Breaking

Minggu, 11 Februari 2018

Cerita Sex Nikmatnya Bercinta Dengan Gadis Perawan Haus Sex

Cerita panas ini bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Benny. Orangnya tampan, tinggi sekitar 178 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku.



Cerita Sex Nikmatnya Bercinta Dengan Gadis Perawan Haus Sex 


Perbedaan umur kami sekitar 7 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta utara. Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas III di SMA-ku.

SMA ku di kawasan Jakarta barat. Dan pada saat itu Benny sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Benny hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.Booking Cewek Online?

Oh ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama panggilanku Clara. Aku baru berusia 17 tahun (SMA kelas III). Tinggiku lumayan sekitar 169 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku.

Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model. Dan aku belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan. Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP. OK dilanjut ya …

Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira tiga hari kemudian, Benny menelepon ke rumahku.

“Hallo selamat sore, bisa bicara dengan Clara, ini dari Benny.”
“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa.”
“Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Hmm, Benny ada acara nggak malam minggu ini.”

Aku sempat kaget Benny mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.


BACA JUGA : Cerita Dewasa Dipaksa Bercinta Dengan Tante Haus Sex


“Hmmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.
“Kenapa bisa begitu,” balas Benny.
“Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku bakalan akan telpon kamu lagi,” balasku lagi.
“Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.”

Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Cengkareng. Dan ternyata rumah Benny tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.

Tepat hari sabtu sore, Benny datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Benny menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat.

“Clara, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu,” bisik Benny mesra.
“Ben, kita baru aja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar.”
“Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku.”
“Ben, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik.”

Tiba-tiba tangan Benny memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat.”Aku juga Clara, begitu melihat kamu langsung tertarik.”

Dan Benny menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Benny memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Benny sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Benny mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki.Taruhan Bola

Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Benny dan mencium bibirnya. Ciuman Benny sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Benny mulai meraba sekitar dadaku.

“Jangan Ben, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu Ben,” jawabku.
Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Benny karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
“Clara, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok.”

Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Benny sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Benny langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Benny meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.

Tiba-tiba Benny membisikkan sesuatu di telingaku, “Clara, kamu membuat nafsuku naik.”
“Aku juga Ben,” balasku manja.

Dan Benny menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Benny sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini.

“Teruskan Clara, remas yang kuat dan lebih kuat lagi.” Tak lama kemudian, tangan Benny sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan.

Akhirnya tangan Benny berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Benny meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Benny memegang puting susuku yang sudah keras.

“Teruskan Ben, aku enak sekali..” Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Benny untuk memasuki celana dalam yang dipakainya.

Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Benny yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan Ben, aku enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa.

“Kita langsung pulang ya Clara sudah malam,” pinta Benny.
“Ben, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.

Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Benny. Mudah-mudahan Benny mengerti apa yang kuinginkan.

“Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Benny dengan nada gembira. Sampai di senayan, Benny memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya.

Dan setelah Benny menghentikan mobilnya, tiba-tiba Benny langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Benny begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.

Tiba-tiba Benny melepaskan ciumannya. “Clara, aku ingin mencium susumu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Benny.

Dan kulihat Benny begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.

“May, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Benny.
“Iya, Ben, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar -benar aku inginkan,” balasku manja.

Tak lama kemudian, Benny dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggu-tunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu.

“Jangan berhenti Ben, teruskan ya… aku enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Benny untuk membuka resleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Benny mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang.

Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Benny dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Resleting celana Benny sudah terbuka dan tiba-tiba Benny menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Benny.

Dan Benny menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Benny yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Benny masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Benny menggigit puting susuku.

“Ben, teruskan ya… jilat aja Ben, sesukamu..” desahku tak karuan.
Sementara aku masih terus memegang penis Benny. Dan sepertinya Benny makin bernafsu dengan permainan seksnya. Akhirnya Benny sudah tidak tahan lagi.
“Clara, kamu isap punyaku ya… mau nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di mulutmu.”

Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dimaui Benny, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Benny merubah posisi duduknya, Benny menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaan Benny.

“Ben, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja Clara, aku sudah tidak tahan..”

Aku langsung mengulum pelan-pelan kepunyaan Benny. Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Benny. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Benny. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Benny aku jilatin terus. Ah… benar-benar nikmat.

Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Benny, tiba-tiba, Benny menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus Clara, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Benny mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Benny.

Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Benny dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Benny. Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Benny

Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Benny kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.

“Clara, aku sudah keluar, banyak ya..”
“Banyak sekali Ben, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa.”
“Tidak apa-apa Clara..”

Kemudian Benny mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Benny. Dan Benny mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11 malam. Dan aku diantar oleh Benny tepat jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi.

Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Benny esoknya.Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Benny yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.

Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Benny menjemputku dan Benny membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku.

“Tempat apa ini Ben,” tanyaku.
“Clara, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau.”
“Entahlah Ben, aku masih takut tempat seperti ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan.”

Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.

“Maya, kita santai di sini aja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau..” pinta Benny.
“Aku setuju saja Ben, terserah kamu.”

Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Benny membaringkan badanku di tempat tidur. “Clara, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku.” Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya.

Benny berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Benny daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Benny lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Benny sudah terlihat bugil di depanku.

Benny memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Benny menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Benny mengelus susuku yang sudah keras.

Dan lama -kelamaan tangan Benny sudah mencapai restleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Benny jongkok tepat di depan vaginaku. Benny memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku.

“Clara, bodi kamu bagus sekali.”
Benny sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.
“Clara, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana.”

“Terserah kamu Ben, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu..” Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Benny. Kemudian Benny meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Benny bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Benny. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar.

Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri. Benny menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Benny sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Benny membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Benny sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar.

Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Benny sambil meremas susuku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Benny sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku.

Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi, kukatakan pada Benny. “Ben, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan -pelan,” pintaku. Benny lalu bangkit dari arah bawah.

Dan menciumi bibirku. “Clara, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya.” “Tidak Ben, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya.”Lalu Benny melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Benny yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali. Dan kubimbing penis Benny agar tepat masuk di lubang vaginaku.

Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Benny berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.

“Oh… enak sekali,” jeritku.

Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Benny. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Benny, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Benny membisikkan sesuatu di telingaku, “Clara, kamu sudah tidak perawan lagi.”

“Ngga apa-apa Ben, jangan dilepas dulu ya…”
“Terus Ben, goyang lebih kencang, aku enak sekali..” Dengan posisi aku di bawah, Benny di atas, kami melakukannya lama sekali. Benny terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Benny masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.

“Benny sepertinya aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar.”
“Keluarin terus Clara, aku tidak akan melepaskan punyaku.”
“ben aku tidak tahan lagi… a..ahh… aaahh.. aku keluar Ben, aku keluar.. keluar Ben..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaa… aaaa..” Pada saat orgasme yang pertama, Benny langsung menciumi bibirku. Oh… benar -benar luar biasa sekali enaknya.

Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Benny dan aku masih memeluk badan Benny. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.

“Clara, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang aku mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan aku isap punyamu.”

Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Benny bisa sangat jelas mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang.

“Clara punyamu lebar sekali.”
“Isap terus Ben, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.”

Aku terus mengisap punya Benny sementara Benny terus menjilati vaginaku dan kami melakukannya sangat lama sekali. Penis Benny yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya. Dan permainan mulut Benny di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin kuakhiri.

“Ben… aku mau keluar lagi… aku tidak tahan lagi honey…”
“Tahan sebentar Clara, aku juga mau keluar..”

Tiba-tiba Benny langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas. Dengan cepat Benny melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Benny ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Benny memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Benny yang besar.

“Dorong yang keras Ben, lebih keras lagi,” desahku. Benny menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
“Iya Ben, seperti itu… terus… aaa..aaa… enak sekali, aku mau melakukannya terusmenerus denganmu..”
“Clara, aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar…”
“Aku juga Ben, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya… aaa..”
“Clara… aku keluar..”
“Aku juga ben… aaa… aa… terasa Ben, terasa sekali hangat spermamu..”
“Aduh, Clara… goyang terus clara, punyaku lagi keluar…”
“Aduh Ben… enak sekali…”

Bibirku langsung menciumi bibir Benny yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur.

“Clara… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.”
“Ia ben…”
Tidak lama kemudian, Benny membersihkan cairan spermanya di vaginaku.
“Clara, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab.”
“Iya Ben..” jawabku singkat.

Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan aku mengalami kenikmatan sampai dua kali. Sekali keluar pada saat Benny menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Benny memasukkan penisnya ke vaginaku. Benny pun mengalami hal yang sama.

Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti.

Kalau dihitung-hitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Benny hanya 3 kali. Jadi sudah 11 kali aku keluar. Sementara Benny sudah 7 kali.

Malamnya tepat jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan sampai sekarang hubunganku dengan Benny bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja.

Dan, baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, aku datang bulan. Dan kemarin ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Benny sepulang dari sekolah.

Ben, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil.”
“Iya Clara… syukurlah…”
Ben, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau Ben..”

Dan, ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Benny sambil Benny menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Benny keluar yang tentunya semua kutelan, karena sudah biasa, setelah itu tangan Benny memainkan vaginaku.Agen Judi Online

Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Benny, tapi aku mengisap kepunyaan Benny sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Benny sudah keluar. Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku. Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan.

Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Benny langsung mengajakku ke penginapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar