Breaking

Kamis, 28 Desember 2017

Cerita Dewasa - Terciduk Ketahuan Ngentod Dengan Tetangga Carolyn Horny Banget

Agencabul.com - Carolyn, 30 tahun adalah istri Genzo 38 tahun. Seorang ibu rumah tangga yang sangat dalam bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Genzo adalah seorang suami yang baik dan bertanggung jawab kepada keluarga. Apapun kekurangan dalam rumah tangga maka ia selalu berusaha untuk mencukupinya. Bisa dibilang, rumah tangga yang harmonis dan rukun. Anak mereka satu-satunya mengambil tempat sekolah di kota lain. Aku kost di lingkungan yang sama dengan mereka.

Cerita Dewasa, cerita seks, cerita sex, cerita hot, kumpulan cerita hot
Terciduk Ketahuan Ngentod Dengan Tetangga Carolyn Horny Banget

Pada waktu 7 Agustus 2010, mereka beserta warga lingkungan tempat tinggal mengadakan malam hiburan berupa organ tunggal sampai subuh. Kebetulan waktu itu adalah hari Sabtu malam minggu. Tua muda, laki-laki perempuan, semua ikut bergembira. Semua turun berjoget mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Mula-mula berjoget dengan pasangan masing-masing. Semua bergembira sambil tertawa lepas mengikuti irama musik. Menjelang subuh pada lagu terakhir, Carolyn berjoget dengan seorang pria, sedangkan Genzo berjoget dengan Gifanny, seorang ibu rumah tangga yang tinggal satu tempat kost tapi berjarak beberapa pintu dari kamar mereka. Gifanny 31-an tahun adalah istri seorang karyawan swasta yang bekerja dengan shift, mempunyai 2 orang anak yang sudah cukup besar. Walau sudah berumur tapi penampilan Gifanny selalu tampak muda karena cara berpakaiannya yang seksi dan pandai bermake up. Sepintas Carolyn melirik pada Genzo yang sedang berjoget dengan Gifanny. Terlihat Genzo sedang tertawa dengan Gifanny sambil berjoget. Gifanny meliuk-liukkan pinggul bulatnya dengan bentuk pantat yang padat dan besar. Rok span ketat memperlihatkan pantat seksinya yang merangsang pada saat bergoyang. Lalu Carolyn kembali berjoget dan tertawa dengan pasangannya. Setelah acara usai, semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun capek.. Sesampai di rumah, setelah mandi air hangat, Carolyn dan Genzo segera ke tempat tidur.

“Bagaimana tadi, sayang?” tanya Genzo sambil memeluk Carolyn.
“Apanya?” tanya Carolyn kembali sambil menempatkan kepalanya di salah satu tangan Genzo.
“Tadi waktu kita di tempat pesta” jawab Genzo sambil mengecup bibir mungil Carolyn.
“Aku benar-benar gembira…” kata Carolyn tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap selangkangan Genzo.
“Harusnya lingkungan kita lebih sering melakukan acara seperti tadi ya. Jangan cuma setahun sekali…” kata Genzo. Satu tangannya masuk ke balik kimono Carolyn. Buah dada Carolyn diremas-remas dengan lembut. Carolyn tidak mengenakan pakaian dalam di balik kimono itu.
“Hmmmmm.. Kenapa begitu?” tanya Carolyn sambil mencium pipi Genzo lalu mengecup bibirnya. Tangannya masuk ke balik celana Genzo. Menggenggam batang kejantanan Genzo yang mulai mengeras. Mengocok-ngocoknya dengan pelan.
“Ya… kita kan bisa bergembira dengan tetangga. Jarang sekali ngumpul bareng tetangga,” ujar Genzo sambil melepas tali kimono yang dikenakan Carolyn. Sambil membaringkan kepalanya di samping dada Carolyn, dijilatnya salah satu puting buah dada Carolyn sambil tangannya yang lain meremas buah dada yang lain.
“Oooohh sayaang…” desah Carolyn pelan sambil memejamkan matanya. Tangannya meremas dengan erat batang kejantanan Genzo.

Sambil tetap menciumi dan menjilati buah dada Carolyn, tangan Genzo yang tadinya meremas buah dada, turun ke perut lalu disusupkan ke selangkangan Carolyn. Setelah jari-jarinya menyentuh bulu kemaluan Carolyn yang tipis, diusap dan diremasnya gundukan di selangkangan itu. Carolyn terpejam sambil mendesah pelan. Jari-jari tangan Genzo lalu menyusuri belahan di selangkangan itu dan menyelusup ke dalamnya. Jari tengahnya menggesek-gesek dinding bagian dalam Meki Carolyn pelan. Lalu jari jempolnya menggesek-gesek itil Carolyn.

“Ooooooooooohhh sayaaaaaang…” desahan Carolyn mulai mengeras sambil menggerakkan pinggulnya.

Jari jempol Genzo terus menggosok-gosok itil Carolyn dan jari tengahnya terus menggesek-gesek dinding dalam bagian atas Meki Carolyn sampai cairan Meki Carolyn keluar membasahi jari tengah Genzo.

“Ooooooohhh…” desah Carolyn sambil satu tangannya memegang tangan Genzo yang sedang bermain di Mekinya.
“Enak, sayang?” tanya Genzo lalu melumat bibir Carolyn.

Lalu jari tengah Genzo dikocok-kocokkan di Meki Carolyn. Tanpa menjawab pertanyaan Genzo, Carolyn membalas ciuman Genzo dengan hebat sambil menjepitkan pahanya dan menggoyangkan pinggulnya menahan kenikmatan ketika jari tangan Genzo keluar masuk lubang Mekinya.

“Buka pakaiannya dong, sayang,” bisik Carolyn ke telinga Genzo.

Genzo bangkit dan melepas seluruh pakaiannya. Penis Genzo terlihat sudah berdiri dengan kerasnya. Batang Penis yang ditumbuhi bulu-bulu pendek. Urat-uratnya melingkari batang Penis dengan kepala yang membulat merah mengkilat. Melihat itu, Carolyn segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Digenggamnya Penis Genzo, Lebih kurang dua genggaman tangannya. Lalu dikocok-kocok perlahan. Cairan bening terlihat keluar dari lubang kepala Penis Genzo. Ujung lidah Carolyn menjilati cairan tersebut. Lidahnya menyusuri belahan bulatan kepala Penis Genzo yang memerah mengkilat.

“Ooooooohhhh sayaang…” desah Genzo sambil meremas rambut Carolyn. Sambil melirik ke arah Genzo lalu mulut Carolyn mengulum batang Penis Genzo yang besar dan berurat-urat itu.

Clok… Clok… Clok… Terdengar suara kuluman mulut Carolyn pada Penis Genzo.
“Oooooooohh… Enak sayaaaang… Ooooooooohhhh…” desah Genzo sambil memegang kepala Carolyn lalu memompa pelan Penisnya di mulut Carolyn.
“Gantian, sayang…” bisik Carolyn sambil melepas kulumannya menatap Genzo.

Genzo tersenyum. Dibaringkannya tubuh Carolyn. Setelah meletakkan bantal sebagai alas kepala agar Carolyn dapat melihat Genzo menjilat dan mengemut Mekinya, lalu Genzo juga berbaring dengan mengangkat kedua kaki Carolyn yang dikangkangkannya lebar-lebar. Carolyn mendesah panjang saat lidah Genzo dengan lincahnya bermain dan menjilati kelentit Meki Carolyn.

“Oooooooooohh sayaaaaaaang.., Terusssss…” desah Carolyn.

Apalagi ketika jari Genzo masuk ke lubang Mekinya sambil lidahnya tak henti menjilati kelentit Carolyn. Gerakan pinggul Carolyn makin keras mengikuti rasa nikmatnya. Tak lama kemudian tangan Carolyn dengan keras meremas rambut Genzo dan mendesakkan kepala Genzo ke Mekinya. Lalu..

“Oooooooohhh… Enak, sayaaaaaaang.., Sssssssssshh…” jerit kecil Carolyn terdengar ketika Carolyn mencapai puncak kenikmatan.

Genzo segera menghentikan jilatannya lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Walau mulutnya masih basah oleh cairan Meki Carolyn, Genzo langsung melumat bibir Carolyn. Carolyn pun langsung membalas ciuman Genzo dengan hebat. Sambil tetap berciuman, tangan Carolyn membimbing Penis Genzo masuk ke dalam belahan Mekinya. Bless… Bless… Bless… Penis Genzo dengan cepat langsung keluar masuk Meki Carolyn.

“Meki kamu legit, saying… Enak…” bisik Genzo sambil sedikit membungkuk ke tubuh Carolyn. Dengan berjongkok dan kedua kakinya mengangkang mengapit kedua kaki Carolyn yang melingkari pahanya, kedua tangannya mengalasi kepala Carolyn. Dengan sedikit mengangkat kepala Carolyn agar ia dapat melihat batang Penis Genzo yang keluar masuk Mekinya dengan pelan.

Carolyn tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya. Pantatnya diangkat-angkat mengikuti irama goyangan pantat Genzo yang maju mundur.

“Memang kenapa?” tanya Carolyn.
“Aku gak pernah bosan menyetubuhi kamu…” bisik Genzo sambil terus memompa Penisnya.

Carolyn tersenyum.

“Kalau wanita lain rasanya bagaimana?” tanya Carolyn lagi.
“Aku gak pernah bersetubuh dengan wanita lain kok” jawab Genzo.

Carolyn tersenyum lalu merangkulkan kedua tangannya ke pundak Genzo sambil tetap menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Penis Genzo. Kedua kakinya diangkat menjepit pinggang Genzo.

“Aku mau tanya, sayang…” kata Carolyn.
“Apa?” tanya Genzo.
“Tubuh Mbak Gifanny, tetangga kita itu, bagus tidak?” tanya Carolyn lagi.
“Ah pertanyaan kamu ada-ada saja…” kata Genzo tak menghiraukan sambil terus memaju mundurkan pantatnya dengan cepat. Nafasnya memburu.
“Aku serius, sayang… Jawab jujurlah. Tidak apa-apa kok…” kata Carolyn.
“Tadi kamu lihat belahan buah dadanya gak?” tanya Carolyn lagi.

Genzo mengangguk. Pantatnya dengan cepat naik-turun dan batang Penisynya dengan cepat juga keluar masuk Meki Carolyn. Semakin basah. Batang Penisnya dilumuri lender keputih-putihan banyak sekali. Carolyn tersenyum sambil terus menggoyangkan pinggul, matanya terus melihat batang Penis Genzo keluar masuk mengocok Mekinya. Lalu kedua tangannya menngapit dan menekan pantat Genzo agar tertancap lebih dalam di Mekinya.

“Jujur aja. Iya, tubuhnya bagus. Tadi aku sempat lihat belahan buah dadanya”.
“Marah?” tanya Genzo kemudian lalu menghentikan gerakannya.

Carolyn tersenyum lagi. Kedua tangannya terus menekan pantat Genzo agar batang Penisnya masuk lebih dalam sambil ia tetap menggoyang-goyang pinggulnya.

“Jangan berhenti dong, sayang… Goyang terusss… Mmmmmhh…” kata Carolyn.
“Aku gak marah kok. Justru aku suka mendengarnya… ” kata Carolyn lagi.
“Kenapa suka?” tanya Genzo heran.
“Tadi waktu aku lihat kamu berjoget dengan Mbak Gifanny, gak tahu kenapa ada perasaan aneh…” kata Carolyn.
“Tiba-tiba aku membayangkan kamu bersetubuh dengan Mbak Gifanny..." lanjut Carolyn lagi
“Lho kenapa begitu?” tanya Genzo.
“Gak tahu…” kata Carolyn.
“Kamu cemburu?” tanya Genzo.
“Gak sama sekali. Justru sebaliknya, aku pengen banget liat kamu bersetubuh dengan Mbak Gifanny..." kata Carolyn.
“Kamu lagi horny kali tadi ya…?” tanya Genzo tanpa menghentikan gerakan Penisnya. Sambil tersenyum diliriknya Carolyn. Lalu dengan menunduk, dikecupnya bibir Carolyn pelan.
Carolyn kembali tersenyum. Setelah beberapa lama memompa Penisnya, Genzo mengejang, gerakannya bertambah cepat.

“Aku mau keluar, sayaaaaang… Ooooooohh…” bisik Genzo.
“Tahan sebentar, sayang.. Aku juga mau keluar…” bisik Carolyn sambil mempercepat gerakan pinggulnya. Diangkat-angkatnya pinggul dan ditekannya pantat Genzo lebih dalam.

Tak lama tubuhnya mengejang, tangannya kuat memeluk tubuh Genzo.

“Aaaaaaaaaaahhhhhhh… Aku keluar, sayaaaaaang…” jerit Carolyn dengan keras.
“Oooooooohh… Nikmat banget sayaaaaaang… Oooooooooohh…” jerit kecil Carolyn ketika mencapai orgasme.Selang beberapa detik, Genzo juga semakin mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya.
Crott… Crott… Crott… Air mani Genzo menyembur dengan kencang di dalam Meki Carolyn.

“Aaaaaaaaarrghhhh… Sayaaaaaang…” Genzo mendesakkan Penisnya dalam-dalam ke Meki Carolyn.. Tubuh kedua mereka lemas saling berpelukan sementara Penis Genzo masih berada di dalam Meki Carolyn.

“Mau gak kalau aku minta kamu maen dengan Mbak Gifanny? Aku serius…” kata Carolyn sambil memeluk pundak Genzo.
“Kenapa sih kamu mau yang aneh-aneh begitu?” tanya Genzo.
“Aku gak tahu, sayang. Yang jelas ada perasaan horny aja waktu membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Gifanny..." jawab Carolyn.
“Mau kan, sayang?” tanya Carolyn memaksa.
“Kalaupun aku mau, bagaimana caranya, sayang…?” kata Genzo sambil mengecup bibir istrinya.
“Nanti aku yang atur…” kata Carolyn sambil tersenyum.

Genzo juga tersenyum sambil mencabut Penisnya dari Meki Carolyn, lalu bangkit dan menarik tangan Carolyn. Setelah bersih-bersih di kamar mandi, merekapun kemudian tidur.

Banyak cara yang dilakukan Carolyn agar Gifanny bisa dekat dan akrab dengannya dan Genzo. Hal itu membuahkan hasil. Gifanny sekarang mulai sering bertandang ke rumah mereka walaupun sekedar ngobrol. Sampai suatu malam Carolyn mengundang Gifanny datang ke rumahnya. Gifanny datang dengan gaun terusan selutut dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda. Belahan buah dadanya yang putih bersih terlihat jelas di sela lekukan krah yang turun sampai ke dadanya. Ia terlihat sangat cantik dan elegan. Kakinya yang putih mulus terpampang dengan indah. Rambut tergerai panjang.

Sambil tiduran di karpet ruang tengah, Carolyn dan Gifanny berbincang-bincang tentang arisan lingkungan. Mereka terlihat akrab. Cemilan dan minuman turut dihidangkan Carolyn. Genzo ikut duduk di karpet bersandar ke sofa, di samping Carolyn. Sesekali matanya melirik ke arah kaki Gifanny yang ditekuk. Gifanny yang tiduran dengan gaun terusan itu, membuat gaunnya tertarik ke bawah dan pahanya yang padat, putih dan mulus mengundang mata Genzo untuk menikmatinya.

“Mas Agung sudah pergi kerja kan, Mbak?” tanya Carolyn sambil bangkit dari tidurannya tiba-tiba.
“Sudah dari tadi dong. Dia dapat bagian shift malam hari ini. Seminggu ini sih” ujar Gifanny.
“Eh ada apa nih undang saya malam-malam gini?” tanya Gifanny kemudian.
“Gak ada apa-apa kok, Mbak…” kata Carolyn.
“Aku cuma pengen ngajak Mbak nonton film yang baru aku beli” kata Carolyn sambil melirik kepada Genzo. Genzo membalas dengan senyuman.
“VCD begituan ya?” tanya Gifanny bersemangat. Dia langsung bangun dari tidurannya.

Carolyn tersenyum sambil melirik Genzo.

“Cepatlah putar!” ujar Gifanny tidak sabar. Genzo bangkit dari duduknya lalu merangkak menuju ke VCD player.
“Giffanny suka film yang mana?” tanya Genzo sambil menyodorkan beberapa keping VCD porno.

Setelah memilih, Gifanny segera menyerahkan film yang ingin dilihatnya. Genzo segera memutarnya. Awalnya mereka bertiga menonton film itu tanpa banyak bicara. Carolyn duduk berdampingan dengan Gifanny, sementara Genzo duduk di belakang mereka.

“Udah ada yang bangun, ya?” tanya Carolyn tiba-tiba sambil tersenyum melirik ke arah selangkangan Genzo.
“Hehehehehe… Lumayan” jawab Genzo senyum-senyum.
“Lumayan apanya?” tanya Gifanny sambil matanya ikut melirik ke arah selangkangan Genzo yang mulai menggembung. Genzo tersenyum lalu menutupi kakinya dengan bantal.

“Mbak Gifanny seberapa sering begituan dengan Mas Agung?” tanya Carolyn kemudian kepada Gifanny.
“Ah, jarang sekali… Mungkin karena dia capek…” kata Gifanny sambil matanya terus melihat adegan pemain yang sedang bersetubuh di video.

Kembali mereka terdiam selama beberapa saat sambil melihat video.

“Sini dong…” kata Carolyn tiba-tiba melambai ke arah Genzo sambil matanya berkedip memberi isyarat. Genzo beringsut mendekati Carolyn. Diambilnya posisi di tengah-tengah Carolyn dan Gifanny.

“Ada apa sih…?” tanya Genzo.
“Duduk dekat sini aja…” kata Carolyn dengan suara manja.

Setelah dekat, dengan sengaja tangan Carolyn segera masuk ke dalam celana pendek Genzo. Lalu digenggam dan ditariknya keluar Penis Genzo yang sudah tegang itu dari balik celana. Diremasnya pelan. Genzo kontan kaget. Tapi refleks, badannya menunduk ke belakang dan kedua kakinya perlahan merenggang. Diambilnya satu bantal sebagai alas kepalanya Lalu tiduran.

Carolyn menarik turun celana pendek Genzo sampai ke pahanya. Lalu sambil duduk nonton, tangannya terus mengocok dan meremas batang Penis Genzo. Jari jempolnya menggesek-gesek kepala Penis Genzo yang telah membulat besar berwarna kemerahan. Mengkilat karena cairan yang keluar dari lubang di kepala Penisnya itu.

Gifanny yang melihat hal itu, perasaannya menjadi tak karuan. Antara rasa malu, rasa ingin melihat dan rasa ingin memegang bercampur baur jadi satu. Batang Penis Genzo yang panjang, besar dan berurat-urat itu sungguh membuatnya terangsang dengan cepat. Matanya bergantian melirik ke arah layar TV dan ke arah batang Penis Genzo yang keras sedang dikocok oleh Carolyn.

“Udah pengen ya?” tanya Carolyn kepada Genzo dengan suara yang agak dikeraskan. Lalu ia menunduk dan mencium bibir Genzo. Lalu mulutnya mendekat ke batang Penis Genzo yang tegak teracung. Dijilatinya kepala Penis itu. Dihisap kuat-kuat dan kembali dijilatinya.

“Oooooohhh…” Genzo mendesah pelan sambil matanya melirik ke arah Gifanny. Gifanny yang semakin tidak menentu perasaannya, kebetulan melirik ke arah Genzo. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Mata Gifanny tiba-tiba meredup dan bibirnya terbuka. Tiba-tiba seperti tersadar lalu membuang pandangannya ke arah video. Hatinya berdebar keras ketika berpandangan dengan Genzo.

Carolyn melirik ke arah Genzo dan Gifanny bergantian sambil tersenyum. Lalu dengan tanpa ragu-ragu, Carolyn menarik celana Genzo lebih ke bawah. Lalu kembali dikocoknya pelan. Genzo mendesah pelan sambil matanya melirik ke arah Gifanny yang jelas kelihatan gelisah. Gifanny berulang-ulang mengganti posisi duduknya. Dari kaki yang diluruskan menjadi disilangkan. Kemudian ditekuk.

“Mbak suka gak sama barang lelaki yang gede panjang?” tanya Carolyn sambil tersenyum menatap ke arah Gifanny.
“Hmmmmm… Iya… Iya… Suka dong…” kata Gifanny menatap Carolyn.

Matanya melirik ke tangan Carolyn yang sedang mengocok dan meremas batang Penis Genzo. Batang Penis yang panjang, besar dan berurat-urat. Sekitar dua genggaman tangan Carolyn, pikirnya.

“Kalau yang kayak gini suka gak, Mbak?” tanya Carolyn sambil matanya mengisyaratkan agar Gifanny memegang Penis Genzo.
“Ah, kamu ada-ada aja… Ya aku suka banget…” kata Gifanny senyum-senyum sambil kembali mengubah posisi duduknya.
“Sini dong, Mbak…” ajak Carolyn.

Gifanny beringsut duduk semakin dekat ke arah Genzo. Kepala Penis Genzo terlihat begitu mengkilat dan kemerahan. Gifanny sungguh semakin terangsang sekarang. Meliat Gifanny yang sedang terdiam memperhatikan tangannya sedang mengocok dan meremas batang Penis Genzo, Carolyn tersenyum. Tangannya meraih tangan Gifanny, lalu ditariknya ke arah Penis Genzo. Gifanny diam menuruti kemauan Carolyn.

“Coba pegang, Mbak…” kata Carolyn.

Tangannya membimbing jari-jari Gifanny menggenggam Penis Genzo. Penis Genzo terasa hangat dan berdenyut di tangan Gifanny. Nafas Gifanny memburu. Ada desiran yang menuntun tangannya perlahan meremas Penis Genzo. Jari jempolnya spontan mengelus kepala Penis Genzo. Digosok-gosoknya cairan kental yang keluar membasahi kepala Penis Genzo yang besar membulat kemerahan itu. Sementara Carolyn melepaskan celana pendek Genzo keluar dari kedua kakinya. Genzo tersenyum sambil melirik ke arah Carolyn. Carolyn juga tersenyum lalu duduk mundur menjauh.

Tanpa diduga tangan Genzo meraih dagu Gifanny. Lalu dengan segera mengecup bibirnya dan melumatnya dengan hangat. Satu tangannya yang lain merengkuh pinggang Gifanny dan menariknya tiduran di sampingnya. Gifanny yang sudah terangsang gairahnya langsung berbaring dan membalas ciuman Genzo dengan hangat pula sambil tangannya mulai berani mengocok Penis Genzo. Tangan Genzo segera menyusup ke balik bawahan gaun terusan Gifanny. Disingkapkannya rok Gifanny sampai ke pinggul. Ditelusurinya paha Gifanny. Elusan tangannya segera menyelusup ke pangkal paha. Lalu jarinya diselipkan ke balik celana dalam Gifanny. Reflex Gifanny merenggangkan kedua pahanya dan mengangkat pantatnya. Memberi keleluasaan untuk tangan Genzo masuk ke selangkangannya. Belahan di sela pahanya terasa hangat.

“Ssssssshhhhh… Oooooohhh…” desah Gifanny pelan sambil menggelinjang ketika jari tangan Genzo menyusuri belahan Mekinya yang sudah sangat basah.
“Ooooooooooohhh…” desah Gifanny tambah keras ketika jari Genzo masuk lubang Mekinya.

Genzo menggesek-gesekkan jarinya ke dinding bagian atas di dalam Meki Gifanny. Pinggulnya digoyang-goyangkan karena nikmat. Lidah Genzo masuk lebih dalam ke rongga mulut Gifanny dan membelit menggesek-gesekkan ke dinding mulutnya. Dihisap dan dilumatnya bibir Gifanny.

Sementara Carolyn sengaja menjauhkan diri dari mereka. Carolyn mendapat suatu rangsangan yang amat sangat ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita yang ia sukai. Carolyn tidak melakukan apapun hanya diam sambil melihat mereka bermesraan. Hanya nafas Carolyn yang terdengar memburu. Ketika tangan Genzo mulai mencoba melepas pakaiannya, Gifanny tersentak sesaat. Dengan segera matanya menatap Carolyn. Tapi ketika dilihatnya Carolyn tersenyum sambil matanya mengisyaratkan agar Gifanny melanjutkan bercinta lagi. Gifanny sesaat terdiam. Tapi ketika tangan Genzo merangkul pinggulnya dan satu tangannya yang lain meremas buah dada Gifanny, Gifanny terpejam dan meremas tangan Genzo yang sedang meremas buah dadanya.

“Oooooohhh…” desah Gifanny seiring dengan jilatan dan pagutan Genzo di lehernya sambil tak lepas tangannya meremas buah dada Gifanny.

Sambil berbaring Genzo mengangkat pinggul Gifanny dan kedua kaki Gifanny diletakkan di pahanya. Lalu ia melepaskan celana dalam Gifanny. Sesaat Gifanny tampak canggung. Genzo bangun dan segera melepas bajunya. Genzo yang setengah berlutut begitu, Gifanny dapat melihat batang kejantanan yang keras, panjang dan besar di selangkangan Genzo berdiri mengacung dengan kepala Penis yang begitu bulat menantang untuk dimasukkan ke dalam belahan Mekinya yang sudah sangat basah. Perut Genzo yang ramping dan berotot sungguh merangsangnya.

Genzo menunduk dan mencium bibir Gifanny. Lalu kedua tangannya membukai kancing gaun Gifanny. Sambil mengangkat tubuh Gifanny agar bangun, bibir mereka terus berpagutan. Satu tangan Gifanny melingkari leher Genzo dan tangan yang lain kembali mengocok batang Penis Dciky dengan lebih cepat. Setelah melepas semua kancing dan kaitan gaun itu, dari kepala Gifanny, Genzo menariknya sehingga Gifanny sekarang telanjang bulat. Mata Gifanny terpejam sayu. Bibirnya terbuka. Ia tak memperdulikan Carolyn lagi. Ditariknya tangan Genzo sambil ia membaringkan tubuhnya ke belakang.

Kembali Genzo menunduk menindih tubuh telanjang Gifanny. Jilatan lidah Genzo pada puting buah dada Gifanny membuat Gifanny menggelinjang merasakan nikmat yang amat sangat. Ia juga merasakan sensasi yang sangat besar karena sedang bercumbu dengan seorang pria sambil diamati oleh wanita lain. Genzo menghisap putingnya dengan kuat, Gifanny meremas rambut Genzo dan membenamkan kepalanya di bulatan buah dadanya yang putih bersih itu. Buah dada Gifanny begitu kenyal dan besar. Dengan putingnya yang coklat kemerahan, Genzo begitu cepat terangsang untuk melumatnya lama-lama.

“Oooooohh… Ooooooooohh Genzo..." desah Gifanny ketika jilatan lidah Genzo turun ke perut lalu turun lagi menyusuri selangkangannya.

Pinggulnya bergoyang mengikuti desiran rasa nikmat itu. Carolyn tetap diam menyaksikan tubuh telanjang suaminya yang sedang bergumul mesra dengan Gifanny. Nafasnya makin memburu waktu melihat Genzo dan Gifanny berganti posisi. Genzo berbaring dan Gifanny menindih tubuhnya dari atas sambil mengangkangkan pahanya tepat di mulat Genzo. Penis Genzo dihisap sambil dikocok oleh Gifanny dan Genzo menjilat serta mengemut bibir Meki Gifanny dengan buas.

“Ooooooohhhhh Genzo..." Gifanny berulang-ulang menjerit sambil menengadahkan kepalanya. Pantatnya ditekan ke bawah dalam-dalam. Membenamkan wajah Genzo di selangkangannya.

Tanpa terasa tangan Carolyn menyelusup ke dalam celana dalamnya. Lalu jarinya mulai menggosok-gosok belahan Mekinya sendiri. Carolyn sangat menikmati ketika Genzo mengangkat-angkat pantatnya memompa Penisnya ke dalam mulut Gifanny. Saat Gifanny menghisap dengan kuat Penis Genzo, kontan Genzo mengerang kuat. Tak tahan dengan pemandangan itu, Carolyn segera melepaskan semua pakaiannya. Dengan duduk telanjang dan mengangkang, ia mengocok-ngocok Mekinya dengan jari sambil mengamati persetubuhan Genzo dengan Gifanny di dekatnya.

“Aaaaaarggghhhh… Gifanny..." teriaknya sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi.
Nafas Carolyn semakin memburu. Satu jarinya semakin cepat keluar masuk Mekinya sendiri ketika melihat Genzo dan Gifanny kembali berganti posisi. Gifanny tetap di atas. Sambil mengangkangi pinggang Genzo, perlahan satu tangannya memasukkan batang Penis Genzo ke dalam belahan Mekinya. Sambil memeluk Gifanny agar terbaring di atas tubuhnya, ia mulai menyetubuhi Gifanny. Satu tangannya memeluk punggung Gifanny dan tangan yang lain memeluk pinggul Gifanny. Desahan dan erangan mereka membuat gairah Carolyn bertambah naik.

“Ooooooooohh… Ssssssshh…” desis Gifanny ketika Genzo dengan cepat mengangkat-angkat pantat dan mengeluar masukkan Penisnya di Meki Gifanny dari bawah.

Lalu dikecup dan dihisapnya dengan kuat bibir Genzo. Matanya terpejam dan pinggulnya dimaju mundurkan dengan cepat pula. Tak tahan dengan gesekan batang Penis Genzo yang terasa penbuh di dalam belahan Mekinya, Gifanny menyusupkan wajahanya ke samping sambil menghisap kuat-kuat leher Genzo.

“Gimana rasanya, Mbak?” tanya Genzo sambil mengelus rambut Gifanny.
“Oooooooooohh… Enak bangeeeet, Andri… Oooooohhh enak bangeeeet…” jawab Gifanny sambil meremas rambut Genzo. Sementara pinggulnya bergoyang mengikuti gerakan Genzo.

Setelah sekitar 15-an menit mereka bersetubuh disaksikan Carolyn, sampai akhirnya Gifanny memeluk tubuh Genzo kuat-kuat. Mekinya didesakkan ke Penis Genzo dalam-dalam. Gerakan pinggulnya makin cepat. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar sambil mendesah panjang. Diremaskan dengan kuat rambut Genzo. Dihisapnya juga dengan kuat leher Genzo.

“Oooooooohh… Oooooooooooohh….” desah Gifanny terkulai lemas setelah mendapat orgasmenya yang pertama.

Sementara Genzo masih terus mengangkat-angkat pantatnya menggenjot Penisnya di Meki Gifanny dari bawah. Sambil mencium bibir Gifanny, dibalikkannya tubuh Gifanny. Lalu dengan berjongkok mengangkang, diletakkannya kedua paha Gifanny menimpa pahanya. Genzo menunduk dan mencium kembali bibir Gifanny. Spontan Gifanny melingkarkan kedua kakinya di pinggang Genzo. Kedua tangannya menekan pantat Genzo kuat-kuat.

Sekarang Genzo dengan cepat lebih leluasa mengocok-ngocokkan batang Penisnya kembali ke dalam Meki Gifanny. Gifanny kembali mendesah dan menjerit-jerit saat batang Penis Genzo menyentuh ujung rahimnya.

“Ooooooohhhh… Oooooohhhh Genzo..." jeritnya ulang-ulang tanpa henti.

Terasa ngilu dan geli yang sangat merangsang Mekinya untuk kembali mengalami orgasme. Ditariknya Genzo ke arah tubuhnya sambil memeluknya dengan erat. Kedua kakinya turun menjepit kaki Genzo. Seakan-akan Gifanny tak ingin melepaskan Genzo sampai ia mencapai orgasmenya yang kedua. Ia juga memaju mundurkan pantatnya dari bawah. Gerakannya makin cepat ketika Genzo mengatakan ia akan keluar.

“Oooohhhh… Aku mau keluar Gifanny… Aku mau keluar Gifanny..." teriak Genzo ulang-ulang.
Gifanny dapat merasakan ada sesuatu yang mendesak nikmat akan keluar dari Penis Genzo. Batang Penis itu terasa semamin membesar di dalam Mekinya. Mekinya terasa semakin penuh oleh batang Penis Genzo yang lebih besar daripada Penis suaminya. Saat Genzo akan menarik Penis dari Mekinya, Gifanny menahan pantat Genzo.

“Di dalam aja… Ooooohhhh“ bisiknya pelan ke telinga Genzo.

“Aaaaaarggggghhhhh… Aku gak tahan…” tiba-tiba Genzo mendesah kuat.
“Aaaaaaaaaargghhhhhh… Aku keluaaaaaaar… Oooooohhhh… “ Genzo membenamkan batang Penisnya dalam-dalam ke Meki Gifanny. Dipeluknya tubuh Gifanny dan dilumatnya bibir Gifanny dengan kuat. Tiba-tiba Gifanny yang merasakan sensasi kenikmatan yang dirasakan Genzo juga tak dapat menahan orgasmenya yang kedua.

“Ooooooooohhhhhh… Genzo… Oooooohhhhh… “ desahnya dengan kuat.

Ditekannya pantat Genzo ke bawah dan diangkat-angkat pantatnya ke atas. Ujung batang Penis Genzo mendesak rahimnya dengan kuat. Sungguh ngilu dan geli yang amat sangat sehingga ia tak dapat menahan kenikmatannya datang lagi. Sehingga pada saat sperma hangat Genzo menyembur ke dalam rahimnya, kontan Gifanny tak dapat menahan orgasmenya yang kedua. Berdua mereka berbarengan keluar.

Tubuh Genzo lemas terkulai di atas tubuh telanjang Gifanny. Tapi batang Penisnya masih tetap mengeras di dalam Meki Gifanny.

“Penisku masih keras. Sekarang kamu ya sayang?” tanyanya kepada Carolyn. Carolyn yang melihat mereka sedang terkulai bertindihan lemas segera beringsut menghampiri. Diusapnya pantat Genzo. Pakaiannya sudah dari tadi ia lepaskan.

“Masih kuat, sayang?” bisik Carolyn ke telinga Genzo.

Genzo segera mencabut Penisnya dari Meki Gifanny lalu bangkit berjongkok. Batang Penisnya memang masih keras berdiri walau ia sendiri sudah mengalami orgasme barusan. Gifanny duduk sambil tersenyum memperhatikan mereka berdua.

“Aku masih kuat, sayang…” kata Genzo lalu berbaring dan menarik tangan Carolyn.

Diciumnya bibir Carolyn. Carolyn segera menaiki tubuh Genzo. Ia duduk mengangkangi selangkangan Genzo. Sambil memeluk pinggangnya, Genzo menggesek-gesekkan batang Penisnya ke belahan Meki Carolyn. Lalu Carolyn menekan pantatnya membenamkan batang Penis Genzo ke dalam Mekinya.

“Oooooohhh sayaaaang…” desah Carolyn dengan kuat.

Ditengadahkannya wajah dengan mata terpejam. Sambil menunduk mencium bibir Genzo, diangkat-angkatnya pantat mengocok batang Penis Genzo dengan cepat. Tiba-tiba ia teringat Gifanny.

“Gimana, Mbak? Enak?” tanya Carolyn kepada Gifanny sambil tersenyum. Gifanny tersenyum. Lalu sambil duduk ia berpakaian.

“Aku bisa ketagihan, lho…” kata Gifanny.
“Penis Genzo enak banget…” lanjutnya sambil tersenyum manis ke arah Genzo.
“Kapan saja Mbak pengen, datang aja ke sini…” kata Carolyn tersenyum pula.
“Makasih, Carolyn. Aku pulang dulu ya,” kata Gifanny sambil mengecup pipi Carolyn yang sedang bersetubuh dengan Genzo. Diciumnya juga bibir Genzo.

Carolyn menggangguk. Sesaat mereka terdiam sambil melihat Gifanny menutup pintu.

Sampai saat ini, sudah berpuluh kali Gifanny bersetubuh dengan Genzo di depan mata Carolyn. Carolyn bukan biseks. Carolyn hanya merasakan suatu gairah dan rangsangan yang sangat kuat ketika melihat suaminya menyetubuhi wanita lain yang disukai Carolyn sendiri. Dan menurut Carolyn juga, sampai detik ini mereka tidak pernah main bertiga. Genzo selalu bersetubuh hanya berdua dengan Gifanny.

Sementara Carolyn juga selalu hanya bersetubuh berdua denganku. Tidak pernah bertiga dengan Genzo. Hal ini yang membuat suasana hidup Carolyn menjadi berwarna cerah.

Tamat

Baca juga cerita dewasa lainnya di sini silahkan di klik saja ya  - Cerita Dewasa 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar