Breaking

Senin, 25 Desember 2017

Cerita Dewasa - Akhirnya Memek Melani Ku Taklukan Sampai Muncrat-Muncrat

Agencabul.com -  Udara pagi ini terasa sejuk sekali, seakan menyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Melani yang tengah bercengkrama dengan bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun kcantikan wajahnya tak dapat disembunyikan.

Ceriita dewasa, cerita sex, cerita seks,cerita hot,kumpulan cerita dewasa
Akhirnya Memek Melani Ku Taklukan Sampai Muncrat-Muncrat

Aku baru saja selesai mandi dan berniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yang segar. Akan tetapi mataku mlihat tante Melani tengah asyik menikmati keindahhan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Melani nampak srius mmperhatikan tanaman itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa brpaling dari rumpunan bunga. ” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi stengah mnawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya membelakangiku. Aku tak mlihat tante Riana, Hendri ataupun Wenny pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.

Aku kmbali mmperhatikan tante Melani yang membelakangiku. Mulai dari betisnya yang putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yang lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut celana pendek, namun trlihat jelas lekukannya. ” Coba dia bisa aku tiduri Seperti tante Riana ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Melani terhuyung lemah ingin trsungkur. Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yang nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yang mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, seraya mmapah tubuh tante Melani. “Kpalaku terasa pusing Bud jawab tante Melani lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku bisa mrangkulmu Mel ucapku dalam hati. Ada Sejuta kebahagian dihatiku karna mampu mrangkul tubuh si angkuh tersebut.

setelah brada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Melani disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Melani duduk dan brsandar pada sandaran sofa. setelah itu aku melangkah mninggalkannya sendiri. Tak berapa lama aku kembali dengan sgelas air hangat dan mnghampiri tante Melani yang tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yang kubawa. Tante Melani pun mminum air hngt yang kuberikan. “Makasih ya Bud ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yang ada didepannya.

Kepalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Melani hanya mnganggukan Kepalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Melani perlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku pun sgera memijat mulai dari Kepalanya dengan perlahan lahan, kmudian dahinya yang dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Bud!?” tanya Wenny yang baru saja pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, Kepalanya pusing Nit!” jawabku. ” Terlalu capek kali!? ” ujar Wenny sambil melangkah kedapur. “Dah aga mendingan Bud jelas tante Melani dengan mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya bersamaan dengan rasa hangat yang menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Melani terasa mnusuk kedua lobang hidungku. Membuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.

“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dengan penuh haraf kepadanya. “Memang kamu bisa!?” tante Melani balik brtanya. Membuat hatiku terasa berdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dengan cepat, takut tante Melani brubah fikiran lagi. “Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Melani. Membuat hatiku berdebar makin cepat. Dengan perlahan papah dia melangkah mnuju kamarnya. Akupun berusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

Setelah brada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Melani pun mrebahkan tubuhnya seraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yang dibawanya. Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Melani. setelah kudapati semua yang kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Melani yang tengah menanti. Dengan mmbranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yang dipakainya. Dia pun perlahan melepaskan pakaian atau baju yang dipakainya. Sehingga tante Melani kini hanya mngenakan bra yang berwarna pink dan celana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Melani membuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memperhatikan dia ditaman.

Dengan prasaan yang tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap …

..usap punggung mulus yang membelakangiku, dengan hati hati sekali. “Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku penuh haraf sambil terus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku sgera melepaskan kait tali branya, sehingga membuat branya mlorot mnutupi sebagian payudaranya yang bulat dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan. setelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dengan minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Melani. Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yang berusaha ditutupi dengan bra dan kedua telapak tangannya. Tapi hal tersebut mmbuatku semakin terangsang didorong rasa pnasaran yang teramat. Sementara tante Melani hanya terdiam seraya memejamkan matanya yang bulat dan indah. ” Pelan pelan ya Bud!? ” pintanya masih dengan mata yang trpejam. Tiba tiba pintu kamar perlahan terbuka, nampak Wenny tengah brdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah teman dulu ya!?” ujar Wenny berpamitan seraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Melani tanpa berpaling kearahnya. Kemudian scara perlahan Wenny mnutup pintu kembali dan brlalu pergi.

Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya berusaha meraih benda yang bulat dan padat brisi yang ditutupinya. Tapi tangan tante Melani terkadang berusaha menghalanginya, dengan merapatkan pangkal lengannya. “Jari kamu nakal ya Bud!? ” ucap tante Melani stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku tersipu malu. “Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Melani malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi. Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa berkedip. Langsung membuat hatiku berdebar debar mnyaksikan pemandangan tersebut. “Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Melani tak lagi mnutupit buah dadanya dengan kedua telapak tangannya lagi. Jantungku terasa bgitu cepat brdetak dan membuat lemas sluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai brdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.

“Memang dah selesai ngeriknya Bud!?” tegur tante Melani mngingatkanku. Membuat aku sgera mlanjutkan prkerjaanku yang trtunda sesaat. Hampir sluruh bagian belakang tubuh tante Melani telah kukerik dan berwarna merah brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yang luput dari kerikanku karna trhalang dengan celana pendek serta CD yang dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.

Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dengan perlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Melani mnundukan Kepalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Bud!” printahnya, agar aku menyudahi pijatanku.

Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera membersihkan sisa sisa minyak dikedua telapak tngnku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Melani skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yang memang ada didalam kamar tersebut. setelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Mel yang tengah telentang diatas ranjang masih dengan keadaan sparuh bugil. Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yang bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dengan puting yang berwarna coklat susu. “Ayo Bud, kamu mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Melani sambil mremas salah satu payudaranya hingga putingnya menonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dengan perasaan nafsu. Membuat kontolku kian berdiri dan Mengeras kencang dibalik celanaku.

Akupun tak menunggu lebih lama, segeraku remasi payudaranya yang mnantang. Tante Melani brgelinjang saat telapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Bud terussss ” rintihnya perlahan. Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging bulat yang padat brisi. Jariku juga memainkan putingnya yang mulai Mengeras. ” Iya,.., ayo diisep Bud.., aaaayooo “pinta tante Melani dengan nafas taj teratur. Akupun sgera menjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Melani seraya mmegangi kpalaku. Aku semakin brnafsu dengan puting yang kenyal Seperti urat dan mnggemaskan. Sementara tante Melani semakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah selangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara celana dan CD tante Melani. Hingga jari jariku terasa menyentuh rumput halus yang cukup lebat didalamnya. Tante Melani membuka pahanya tak kala jari telunjukku berusaha masuk kedalam lobang yang ada ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Melani saat telunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun Menggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Sementara kontolku semakin Mengeras hendak keluar dari bahan yang Menutupinya.

Cukup lama jari telunjukku keluar masuk didalam memek tante Melani, hingga lobang itu mulai terasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Melani menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Buddd.., aaachh” rintih tante Melani. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Bud!!” seru tante Melani seraya bangkit dan mlepaskan celana pendek serta CDnya. Sehingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah selangkangannya yang baru saja ku obok obok. Akupun mlepaskan semua pakaianku dan bugil seperti dirinya.

Dengan senyum manis kearahku, tante Melani mendekat dan berjongkok tepat didepan selangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Melani seraya telapak tangannya mraih kontolku yang telah brdiri dan keras. Dngn tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan telapak kirinya mngelus elus Kepalanya. Hingga kepala kontolku terasa brdenyut hangat. Kemudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya seraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kepala tante …

Melani, mremas serta mngusap usap rambutnya yang ikal sebahu. Sementara tante Melani semakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan dia ingin melumat sluruh kontolku. Trnyata dia lebih buas dari tante Riana. Terkadang dia menjilati dari batang hingga lobang kencing dikepalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan teramat. Terasa tubuhku melayang jauh tak menentu.

Entah berapa lama tante Melani mngemut, menjilat dan mengulum kontolku. Yang jelas hal ini membuat tubuhku brgetar dan hampir kejang. ” Gantian dong tan, aku juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Melani mandi dengan air maniku.

Tante Melani sgera bangkit brdiri meninggalkan kontolku yang masih brdiri tegak. Kemudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yang ada. Akupun berjongkok menghadap memeknya yang dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Melani trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yang telah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yang berwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai menjelajahi dan menjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., terussss, aassstttssh” desah tante Melani saat lidahku bermain menjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun semakin liar dan berusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Melani tak karuan. Lidahku brhenti menjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sebesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yang berwarna merah dan basah dengan air mazinya dan air liurku.

“Aughh…..” suara tante Melani Seperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Melani lirih. ” Udahhh…, Bud..., udddaah Buddd ” rengek tante Melani seraya mndorong kpalaku dengan kakinya yang terkulai lemas dibahuku.

Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Melani dan bangkit brdiri dihadapannya dengan kontol yang masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Melani agar bangkit dari duduknya. Kini aku yang mnggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Melani naik keatas pahaku dan tubuhnya menghadap kearahku, hingga tubuh kami saling brhimpitan. Kemudian tante Melani mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Melani ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dengan mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Budd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Melani tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya. ” Aauwww, aku ga tahan ne Budd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Melani seraya mnggerakan bokongnya dengan cepat. Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Melani sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan selangkanganku. Akupun mengejang mnahan tekanan bokong tante Melani. “Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dengan erat beberapa saat dengan bercampur peluh masing masing.

setelah cukup lama kami brpelukan, kamipun bangkit dengan malas, enggan branjak dari suasana yang ada. setelah itu kamipun mandi membersihkan tubuh kami masing masing yang basah dengan peluh syurga.

Akhirnya aku bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Melani

Udara pagi ini terasa sejuk skali, seakan menyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Melani yang tengah bercengkrama dengan bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun kcantikan wajahnya tak dapat disembunyikan.

Aku baru saja selesai mandi dan berniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yang segar. Akan tetapi mataku mlihat tante Melani tengah asyik menikmati keindahhan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Melani nampak srius mmperhatikan tanaman itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa brpaling dari rumpunan bunga. ” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi stengah mnawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya membelakangiku. Aku tak mlihat tante Riana, Hendri ataupun Wenny pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.

Aku kmbali mmperhatikan tante Melani yang membelakangiku. Mulai dari betisnya yang putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yang lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut celana pendek, namun trlihat jelas lekukannya. ” Coba dia bisa aku tiduri Seperti tante Riana ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Melani terhuyung lemah ingin trsungkur. Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yang nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yang mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, seraya mmapah tubuh tante Melani. “Kepalaku terasa pusing Bud jawab tante Melani lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku bisa mrangkulmu Mel ucapku dalam hati. Ada sejuta kebahagian dihatiku karna mampu mrangkul tubuh si angkuh tersebut.

setelah brada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Melani disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Melani duduk dan brsandar pada sandaran sofa. setelah itu aku melangkah mninggalkannya sendiri. Tak berapa lama aku kembali dengan sgelas air hangat dan mnghampiri tante Melani yang tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yang kubawa. Tante Melani pun mminum air hngt yang kuberikan. “Makasih ya Bud ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yang ada didepannya.

Kepalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Melani hanya mnganggukan Kepalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Melani perlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku pun sgera memijat mulai dari Kepalanya dengan perlahan lahan, kmudian dahinya yang dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Bud!?” tanya Wenny yang baru saja pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, Kepalanya pusing Nit!” jawabku. ” Terlalu capek kali!? ” ujar Wenny sambil melangkah kedapur. “Dah aga mendingan Bud jelas tante Melani dengan mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya bersamaan dengan rasa hangat yang menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Melani terasa mnusuk kedua lobang hidungku. Membuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.

“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dengan penuh haraf kepadanya. “Memang kamu bisa!?” tante Melani balik brtanya. Membuat hatiku terasa berdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dengan cepat, takut tante Melani brubah fikiran lagi. “Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Melani. Membuat hatiku berdebar makin cepat. Dengan perlahan papah dia melangkah mnuju kamarnya. Akupun berusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

Setelah brada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Melani pun mrebahkan tubuhnya seraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yang dibawanya. Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Melani. setelah kudapati semua yang kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Melani yang tengah menanti. Dengan mmbranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yang dipakainya. Dia pun perlahan melepaskan pakaian atau baju yang dipakainya. Sehingga tante Melani kini hanya mngenakan bra yang berwarna pink dan celana pendek saja. Ada getaran hangat menjalari sluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Melani membuka bajunya. Hingga membangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mengendap dibenakku sejak awal, ketika memperhatikan dia ditaman.

Dengan prasaan yang tak menentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap …

..usap punggung mulus yang membelakangiku, dengan hati hati sekali. “Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku sgera melepaskan kait tali branya, sehingga membuat branya melorot menutupi sebagian payudaranya yang bulat dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan. setelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dengan minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Melani. Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yang berusaha ditutupi dengan bra dan kedua telapak tangannya. Tapi hal tersebut membuatku semakin terangsang didorong rasa pnasaran yang teramat. Sementara tante Melani hanya terdiam seraya mmejamkan matanya yang bulat dan indah. ” Pelan pelan ya Bud!? ” pintanya masih dengan mata yang trpejam. Tiba tiba pintu kamar perlahan terbuka, nampak Wenny tengah brdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah teman dulu ya!?” ujar Wenny berpamitan seraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Melani tanpa brpaling kearahnya. Kemudian scara perlahan Wenny mnutup pintu kembali dan brlalu pergi.

Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya berusaha meraih benda yang bulat dan padat brisi yang ditutupinya. Tapi tangan tante Melani terkadang berusaha menghalanginya, dengan merapatkan pangkal lengannya. “Jari kamu nakal ya Bud!? ” ucap tante Melani stengah berbisik seraya mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Melani malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi. Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung membuat hatiku berdebar debar mnyaksikan pemandangan tersebut. “Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Melani tak lagi mnutupit buah dadanya dengan kedua telapak tangannya lagi. Jantungku terasa bgitu cepat brdetak dan membuat lemas sluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai brdiri tegak mengikuti dorongan hasratku.

“Memang dah selesai ngeriknya Bud!?” tegur tante Melani mngingatkanku. Membuat aku sgera melanjutkan pekerjaanku yang tertunda sesaat. Hampir sluruh bagian belakang tubuh tante Melani telah kukerik dan berwarna merah brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yang luput dari kerikanku karna trhalang dengan celana pendek serta CD yang dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.

Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dengan perlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Melani mnundukan Kepalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Bud!” printahnya, agar aku menyudahi pijatanku.

Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera membersihkan sisa sisa minyak dikedua telapak tngnku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Melani skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yang memang ada didalam kamar tersebut. setelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Mel yang tengah telentang diatas ranjang masih dengan keadaan sparuh bugil. Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yang bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dengan puting yang berwarna coklat susu. “Ayo Bud, kamu mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Melani sambil mremas salah satu payudaranya hingga putingnya menonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dengan perasaan nafsu. Membuat kontolku kian brdiri dan Mengeras kencang dibalik celanaku.

Akupun tak menunggu lebih lama, segeraku remasi payudaranya yang mnantang. Tante Melani brgelinjang saat telapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Bud terussss ” rintihnya perlahan. Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging bulat yang padat brisi. JariQ juga memainkan putingnya yang mulai Mengeras. ” Iya,.., ayo diisep Bud.., aaaayooo “pinta tante Melani dengan nafas taj tratur. Akupun sgera menjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Melani seraya mmegangi kpalaku. Aku semakin brnafsu dengan puting yang kenyal Seperti urat dan mnggemaskan. Sementara tante Melani semakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah selangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara celana dan CD tante Melani. Hingga jari jariku terasa menyentuh rumput halus yang cukup lebat didalamnya. Tante Melani membuka pahanya tak kala jari telunjukku berusaha masuk kedalam lobang yang ada ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Melani saat telunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun Menggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Sementara kontolku semakin Mengeras hendak keluar dari bahan yang Menutupinya.

Cukup lama jari telunjukku keluar masuk didalam memek tante Melani, hingga lobang itu mulai terasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Melani menahan gerakan tanganku dan mminta menyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Buddd.., aaachh” rintih tante Melani. Akupun menarik tanganku dari balik celananya dan melepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Bud!!” seru tante Melani seraya bangkit dan melepaskan celana pendek serta CDnya. Sehingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah selangkangannya yang baru saja ku obok obok. Akupun mlepaskan semua pakaianku dan bugil Seperti dirinya.

Dengan senyum manis kearahku, tante Melani mendekat dan berjongkok tepat didepan selangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Melani seraya telapak tangannya mraih kontolku yang telah brdiri dan keras. Dngn tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan telapak kirinya mngelus elus Kepalanya. Hingga kepala kontolku terasa brdenyut hangat. Kemudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya seraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kepala tante …

Melani, mremas serta mngusap usap rambutnya yang ikal sebahu. Sementara tante Melani semakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan dia ingin melumat sluruh kontolku. Trnyata dia lebih buas dari tante Riana. Terkadang dia menjilati dari batang hingga lobang kencing dikepalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan teramat. Terasa tubuhku melayang jauh tak menentu.

Entah berapa lama tante Melani mngemut, menjilat dan mngulum kontolku. Yang jelas hal ini membuat tubuhku brgetar dan hampir kejang. ” Gantian dong tan, aku juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Melani mandi dengan air maniku.

Tante Melani sgera bangkit brdiri meninggalkan kontolku yang masih brdiri tegak. Kemudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yang ada. Akupun berjongkok menghadap memeknya yang dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Melani trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yang telah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yang berwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai menjelajahi dan menjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., terussss, aassstttssh” desah tante Melani saat lidahku bermain menjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun semakin liar dan berusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Melani tak karuan. Lidahku brhenti menjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sebesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yang berwarna merah dan basah dengan air mazinya dan air liurku.

“Aughh…..” suara tante Melani Seperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Melani lirih. ” Udahhh…, Bud..., udddaah Buddd ” rengek tante Melani seraya mndorong kpalaku dengan kakinya yang terkulai lemas dibahuku.

Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Melani dan bangkit brdiri dihadapannya dengan kontol yang masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Melani agar bangkit dari duduknya. Kini aku yang mnggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Melani naik keatas pahaku dan tubuhnya menghadap kearahku, hingga tubuh kami saling brhimpitan. Kemudian tante Melani mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Melani ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dengan mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Budd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Melani tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya. ” Aauwww, aku ga tahan ne Budd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Melani seraya mnggerakan bokongnya dengan cepat. Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Melani sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan selangkanganku. Akupun mengejang mnahan tekanan bokong tante Melani. “Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dengan erat beberapa saat dengan bercampur peluh masing masing.

setelah cukup lama kami berpelukan, kamipun bangkit dengan malas, enggan beranjak dari suasana yang ada. setelah itu kamipun mandi membrsihkan tubuh kami masing masing yang basah dengan peluh syurga.

Tamat

Baca juga cerita dewasa lainnya di sini silahkan di klik saja ya  - Cerita Dewasa 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar