Breaking

Minggu, 19 November 2017

ISTRI BOSS KUPERKOSA KARENA LAMA TAK DIGAJI

Agencabul.com - Ini adalah pengalaman yang terjadi pada diri saya sendiri. Kejadian ini terjadi pada saat saya masih bekerja pada bos saya di rumahnya. Semua nama di cerita ini adalah nama samaran untuk melindungi orang yang terlibat dalam cerita ini.


Pengalamanku ini terjadi pada saat aku masih bekerja sebagai penulis di rumahnya. Saya adalah seorang penulis yang bekerja pada seorang agen penulisan, sebutlah nama samaran bosku adalah Fikri. Bosku Fikri menggunakan salah satu kamar rumahnya untuk dijadikan kantor tempat bawahannya bekerja. Saat ini Fikri hanya memiliki satu orang bawahan, yaitu saya sendiri.

Pekerja Fikri yang lain telah keluar karena perlakuan Fikri yang tidak adil. Fikri sering kali memotong, bahkan tidak membayar pekerjaan bawahannya. Namun Fikri tetap tidak belajar dari pengalamannya, Fikri tetap tidak membayar hasil kerja dari pekerja terakhirnya ini.

Tidak hanya itu, Fikri memiliki sifat yang suka berselingkuh. Saya sering kali disuruh menginap di rumahnya untuk menyelesaikan banyak pekerjaan yang sering kali tidak dibayar. Sebenarnya, saya sendiri sudah ingin keluar saat itu. Namun, saat itu aku masih memiliki uang di bosku yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja.

Setelah sekian banyaknya pekerjaanku yang tidak dibayar, aku mulai berpikir untuk memanfaatkan keadaan. Istri bosku adalah seorang wanita yang cantik, sebutlah namanya Rini. Hampir semua orang yang datang ke rumah Fikri , datang karena istrinya. Namun, sayang Fikri adalah tukang selingkuh.

Malam-malam selama aku menginap selalu dipenuhi oleh pertengkaran suami istri di tengah malam. Fikri biasanya pergi pada pagi atau siang hari dan pulang tengah malam setiap hari. Setelah pulang, Fikri mulai bertengkar di tengah malam dan mengganggu siapapun yang mendengarnya. Saat malam, istrinya selalu tidur menunggu Fikri pulang tengah malam.

Pada suatu malam, aku sedang menginap di rumah Fikri untuk mengeprint beberapa buku. Jam sepuluh malam Fikri belum pulang ke rumah. Aku tahu Fikri sedang meniduri selingkuhannya atau sedang dalam perjalanan pulang. “Ngapain sih selingkuh? Istri sudah cantik seperti Rini disia-siakan seperti itu, sedang hamil pula!” Pikirku sambil menunggu mesin print di depanku.

Pada saat itu aku tersadar dan berpikir “Benar! Sia-sia sekali istri secantik itu dibiarkan begitu saja! Kukerjai saja dia sebagai ganti upah kerjaku yang tidak Fikri bayar.” Aku mulai memikirkan rencana untuk mengerjai istri Fikri, bosku sendiri. Aku tahu kalau pintu yang memisahkan tempat kerjaku dan rumah utama telah macet dan tidak bisa dikunci.

Aku bisa mengerjai istri Fikri dengan bebas, aku hanya perlu berhati-hati saat melakukannya agar tidak ketahuan. Aku berusaha mendengarkan dari balik pintu suara tidur di rumah utama. Setelah yakin bahwa tak ada suara tanda-tanda aktivitas di dalam rumah utama, aku memberanikan diri untuk membuka pintu.

Pintu itu cukup didorong sedikit agar bisa terbuka karena kuncinya sudah rusak. Aku mendorongnya perlahan agar tidak menimbulkan suara keras. Satu desakan lembut, dan pintu tersebut terbuka. Aku mengintip sedikit memastikan bahwa istri Fikri tertidur pulas.

Matanya tertutup, nafasnya teratur, saatnya bersenang-senang. Aku merangkak dan mendekat perlahan-lahan dengan jantung berdetak keras dan nafas memburu. Rasa takut ketahuan dan terangsang bercampur, sungguh campuran perasaan yang menarik dan menyenangkan.

Setelah dekat, aku memandang tubuh Rini dengan takjub. Kulit putih yang yang tampak sangat halus. Tubuh yang indah dengan wajah yang cantik ini telah membuat banyak pria ingin menidurinya. Perutnya membuncit karena dia sedang hamil lima bulan, “Kejam sekali Fikri, istri sedang hamil dia malah selingkuh dengan perempuan lain.” kataku dalam hati. “Well kalau Fikri tidak mau istrinya, sebaiknya untukku saja.” pikirku, lagipula aku selalu penasaran dengan wanita hamil.

Rini tidur dengan posisi membelakangiku dengan kaki terbuka. Baju dasternya yang berwarna biru tua tersingkap hingga memperlihatkan kaki indahnya yang berwarna putih. Celana dalamnya yang berwarna krem terlihat dengan jelas, aku yakin tindakanku ini benar-benar di luar dugaan mereka. Aku menyingkapkan daster Rini untuk melihat tubuhnya lebih banyak lagi.

Terlihatlah seluruh pantat Rini di depan mataku. Pelan-pelan aku mengelusnya dari paha hingga ke pantatnya, agar Rini tidak terbangun. Aku sangat takut Rini tiba-tiba terbangun dan melihat perbuatanku padanya, aku akan berada dalam masalah besar. Aku menciumi pantat Rini dan terkadang menjilatnya sedikit.

Saat aku sedang menikmati pantat Rini, tiba-tiba aku mendengar suara motor mendekat. “Fikri pulang!” pikirku dengan panik. Aku merapikan daster Rini dan segera kembali ke ruangan tempat kerjaku. Mesin print masih terus mengeprint buku yang seharusnya aku awasi. Setelah menanyakan pekerjaanku, Fikri dan Rini kembali melakukan rutinitasnya bertengkar di tengah malam. Asiksex.com

Keesokan paginya Fikri mengizinkan aku untuk pulang sebentar dan tidur beberapa jam. Siangnya aku ditelepon untuk datang lagi ke rumah Fikri dan meneruskan proses mengeprint buku. Tak lama kemudian, Fikri pergi dengan alasan akan pergi ke beberapa penerbit.

“Padahal tak usah berbohong karena baik aku ataupun istri Fikri sudah mengetahui Fikri akan pergi ke tempat selingkuhannya.” pikirku dalam hati. Setelah pertengkaran yang cukup hebat dengan istrinya, pergilah Fikri dari rumah.

Sekali lagi, seperti biasa, Fikri meninggalkan istrinya serumah dengan pria lain. Jam setengah sepuluh malam rumah sudah sepi, hanya suara mesin print yang sedang bekerja. “Saatnya aku beraksi” pikirku sambil menyiapkan kertas yang banyak di mesin print. Aku mendorong pintu dan masuk ke kamar tidur Rini.

Rini sedang tidur nyenyak dengan pakaian yang tersingkap hingga mencapai dadanya. “Wow! Kemarin aku puas menciumi pantatnya, sekarang ke payudaranya ah!” pikirku. Aku menaikkan dasternya lebih tinggi lagi, hingga seluruh payudaranya terlihat. Aku meremasnya perlahan dan menciuminya. Cerita Dewasa

Kemudian, aku tertarik untuk melihat puting payudaranya. Aku menarik BH Rini ke bawah perlahan-lahan. Aku takut Rini terbangun saat aku sedang melucuti pakaiannya. Ternyata puting Rini sangatlah lucu, mirip dengan puting payudara anak-anak. Puting payudara Rini ukurannya kecil, berwarna coklat gelap, lingkaran sekelilingnya pun tidak besar..

Aku tidak tahan lagi, aku ingin menghisap payudaranya, walaupun aku takut Rini terbangun. Aku membuka mulutku dan bersiap menghisap puting coklat Rini. Mulutku menutup dan puting Rini berada dalam dalam bibirku. Aku berhenti sebentar dan memperhatikan wajah Rini, takut Rini terbangun. Aroma puting Rini sangat wangi, seperti wangi vanilla, kusadari dia sedang hamil dan payudaranya sedikit basah. Kemudian aku menghisapnya perlahan-lahan dan selembut mungkin.

Beberapa lama aku menghisap puting payudara Rini yang wangi dan lezat. Aku mulai lupa diri dan ingin menusukkan penisku ke vagina Rini. Aku kemudian memposisikan tubuhku agar dapat menyetubuhi Rini. Walau aku takut Rini terbangun, aku ingin mencoba terlebih dahulu. Aku menarik celana dalam Rini dari belakang dengan perlahan. Tak lama kemudian aku berhasil melihat belahan pantatnya. Kemudian diikuti dengan lubang pantatnya dan lubang vaginanya.

Lubang pantat Rini berwarna coklat gelap, bergerak-gerak mengikuti irama nafas Rini, Kadang lubang tersebut berkedut-kedut beberapa kali, aku tidak tahu mengapa. Kemudian aku mulai memposisikan tubuhku untuk menyetubuhi Rini. Aku menempelkan kepala penisku ke vagina Rini untuk melihat reaksinya. Rini terlihat masih tidur dan belum terbangun sama sekali, tampaknya Rini kalau sudah tertidur sulit untuk bangun.

Aku menjadi semakin berani untuk menyetubuhi Rini. Aku menekan penisku ke dalam vagina Rini lebih dalam dengan perlahan. Aku sempat merasakan sempitnya vagina Rini dan panas tubuhnya di sekeliling penisku. Namun, tiba-tiba Rini melenguh keras dan menutup kakinya hingga penisku tertarik keluar. Aku kaget setengah mati, kukira Rini akan terbangun dan memergokiku sedang menyetubuhinya. Penampilanku sekarangpun sudah tidak bisa disangkal, dengan penis tegang keluar dari celana. Pakaian Rini-pun sedang dalam posisi hampir terbuka.

Aku segera merapikan pakaian Rini dan pergi dari kamar tidurnya. Kemudian melanjutkan pekerjaanku mengawasi mesin prin. Tak lama kemudian, Fikri pulang dan menanyakan pekerjaanku. Setelah bertengkar, Fikri dan Rini tidur, meninggalkan aku sendirian di tempat kerjaku.

Aku mulai berpikir untuk mengerjai Rini dengan lebih cepat dan tidak perlahan-lahan. Terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk berhati-hati dan takut ketahuan. Fikri keburu pulang dan resiko ketahuan yang besar menjadi pikiranku selama beraksi.

Kemudian aku mendapat ide untuk menggunakan obat tidur. Aku segera mencari di internet untuk membeli obat tidur. Setelah memesan, obat tidur tersebut datang tiga hari kemudian. Aku menyusun rencana untuk menggunakan obat tidur tersebut pada Rini .

Malamnya Fikri sedang pergi dan Rini sedang menonton televisi di ruang tamu. Kemudian aku segera membuat alasan untuk membuat kopi agar dapat masuk ke rumah utama. Begitu Rini lengah aku memasukkan obat tidur cair ke minumannya dan kedua anaknya yang masih kecil. Aku masuk kembali ke ruang kerjaku. Setelah kutunggun lama suara televisi masih menyala, namun tidak terdengar suara Rini ataupun anak-anaknya.

Aku memberanikan diri untuk masuk dan membuka pintu dengan cara normal. Setelah aku masuk ternyata Rini dan kedua anaknya masih berada di ruang tamu. Rini tertidur di kursi dan anaknya tertidur di lantai masih memegang mainan yang sedang dimainkannya. Aku menggelengkan kepala, tidak percaya bahwa aku akan memperkosa wanita hamil yang sedang tidur.

Aku kemudian menguji apakah Rini sudah sudah benar-benar tertidur atau belum. “Teh Rini, teh Rini bangun” kataku sambil menepuk dan menggoyangkan tubuhnya. Rini tidak juga bangun dan masih tertidur pulas. Untuk meyakinkan aku meremas payudaranya perlahan, kemudian aku meremasnya dengan keras untuk melihat reaksinya. Ternyata Rini tidak juga terbangun, nampaknya obat tidur tersebut benar-benar berfungsi dengan baik.

Kemudian aku menyeret tubuh Rini ke kamar tidurnya. Aku tak punya banyak waktu karena Fikri akan segera pulang, dan aku tak ingin dia memergokiku sedang memperkosa istrinya. Aku cepat-cepat membuka bajunya dan bajuku sendiri. Kuciumi seluruh badannya dengan penuh nafsu, karena aku tahu kini apapun yang kuperbuat Rini takkan terbangun.

Kuposisikan tubuh Rini dengan posisi terlentang hingga aku bebas menjamah seluruh tubuhnya. Perutnya yang sedang hamil tampak membusung ke atas. Kemudian aku menghisap putting payudaranya, tidak seperti beberapa hari lalu, malam ini aku menghisapnya dengan keras.

Kuremas payudara Rini yang satu lagi, satu kuremas, satu kuhisap terkadang bergantian. Setelah beberapa lama, kurasakan tanganku basah di payudara Rini, dan hanya ada satu penjelasan, ini air susu Rini. Setelah terpana sebentar, aku mulai menjilati air susunya. Ternyata rasanya cukup enak dan wangi. Aku masih belum puas merasakan air susu Rini dan masih ingin terus meminumnya.

Aku menghisap air susu Rini dari puting payudara, kuremas kemudian setelah susunya keluar aku hisap hingga habis, terus seperti itu. Setelah beberapa saat aku tahu teknik untuk mengeluarkan air susunya tanpa harus meremasnya dengan tangan. Setelah aku merasa enek, enek karena air susu yang seharusnya untuk bayi, lucu sekali.

Karena aku merasa sudah cukup puas dengan payudaranya, aku ingin melakukan hal yang lain. Aku melihat bibir Rini yang indah dan jadi sangat ingin menciumnya. Aku mendekatkan wajah dan mencium bibirnya. Rasa mulut Rini jujur saja rasa mi instan, sepertinya di baru makan mi instan.

Aku mengeluarkan penisku dan mendekatkannya ke wajah Rini. Setelah menggosokkannya ke bibir Rini, aku menekan penisku ke dalam mulut Rini. Setelah memasuki mulut Rini aku mulai menggerakkan penisku keluar masuk. Mulut Rini dipenuhi penisku dan becek karena liurku. Kemudian Rini bergerak secara reflek berusaha mengeluarkan penisku dari mulutnya. “Sayang sekali…” pikirku dalam hati.

Aku mengganti tergetku pada vaginanya, yang belum kusentuh dari tadi. Aku membuka kedua kaki Rini hingga posisinya kini mengangkang, siap dimasuki penisku. Aku tidak ingin melakukannya dengan pelan, aku ingin melakukannya dengan keras dan kasar, toh Rini takkan terbangun kali ini.

Kugosokkan penisku di bibir lubang vagina Rini agar tak meleset saat kumasukkan. Setelah letaknya tepat aku segera bersiap untuk memasukkan penisku ke vagina Rini. Dengan satu hentakan keras, BLESSS aku menusukkan penisku ke dalam vagina Rini sekuat tenaga. Rini tetap diam saja, hanya ekspresi wajahnya yang sedikit mengerut.

Aku mendiamkan sebentar penisku di dalam vagina Rini, mencoba meresapi panas tubuhnya dan gerakan di dalam vaginanya. Vagina Rini seakan bernapas dengan jepitan yang mengeras dan mengendur di sekeliling penisku. Penisku mulai kukeluarkan dan kuhentakkan kembali dengan keras. Aku melakukannya beberapa kali karena setiap kali melakukannya vagina Rini berkedut-kedut di bagian dalam. Cerita Seks

Setelah melihat jam, ternyata sudah lewat setengah jam sejak aku mulai bermain dengan tubuh Rini. Aku mulai menggenjot badan Rini dengan cepat dan kuat. PLOK PLOK PLOK PLOK suara paha kami saat bertemu karena genjotanku. Sambil terus kugenjot, aku menciumi seluruh permukaan tubuhnya. Lenguhan-lenguhan kecil keluar dari bibirnya yang indah. Payudara dan seluruh dadanya kujilati, kuremas, dan kuhisap dengan rakus. Perutnya yang membusung kupeluk dan kuciumi pula, aku ingin merasakan dengan jelas kalau aku sedang memperkosa wanita hamil dan berjilbab pula.

Sekarang yang membuatku bingung adalah apakah aku harus mengeluarkan maniku di luar atau di dalam. Setelah hampir setengah jam menggenjot tubuh Rini, aku merasakan maniku sudah siap keluar. Pada saat merasakan sudah mencapai puncaknya, aku memutuskan untuk mengeluarkan maniku di dalam vagina Rini. Kutekan keras penisku ke dalam vagina Rini agar maniku keluar di tempat paling dalam di tubuh Rini.

CROT CROT CROT maniku akhirnya keluar di dalam vagina Rini. Aku dapat merasakan maniku keluar dan membanjiri vagina Rini. “Oh, oh, oh yeah,” kataku tak kuasa menahan nikmat orgasme yang membuat seluruh tubuhku menegang. Setelah kulepaskan penisku dari vagina Rini, air maniku sedikit menetes dari vaginanya.

Aku berpikir, “Bagaimana dengan bayi di dalam rahimnya ya?” karena aku baru saja memasukkan sperma dalam jumlah besar. Aku pernah mendengar kalau seorang wanita akan keguguran kalau diperkosa pada saat mengandung. Tapi kemudian aku berpikir lagi, “Memang aku peduli? Aku rasa tidak! Lebih baik aku teruskan, karena bagaimanapun sudah terlambat menyesal sekarang.”

Setelah tenagaku pulih, aku siap untuk bermain dengan tubuh Rini minimal satu kali lagi. Tubuh Rini kuposisikan agar menungging, karena aku ingin memperkosanya dari belakang. Kunaikkan pantatnya ke atas dan menciumi pantatnya. Pada saat sedang asyik menciumi, aku melibat lubang anusnya. Aku terpana dengan gerakannya yang seakan mengundangku untuk melakukan anal seks padanya. Namun, aku terpaksa harus menolak, karena jika ketahuan ada bekas anal seks, mereka akan curiga.

Kumasukkan sekali lagi penisku ke dalam vagina Rini dari belakang. Setelah posisiku mantap, aku genjot vagina Rini dengan cepat dan kuat. Kini tak hanya terdengar suara paha saja yang terdengar. Kini, suaranya terdengar lebih becek karena banyaknya cairan dalam vagina Rini.

Setelah puas dengan posisi menungging, kuangkat tubuh Rini hingga dia berada dalam posisi mendudukiku. Aku harus terus menahan tubuh Rini agar tak terjatuh. Posisi duduk membuat ukuran perut Rini yang sedang hamil terlihat dengan jelas. Sambil terus merabai tubuhnya dari belakang, aku terus menggenjot tubuh Rini.

Perut dan payudara Rini bergoncang mengikuti gerakan genjotanku. Remasanku pada payudara Rini semakin keras hingga air susunya memercik ke kasur. Namun, posisi duduk cukup membuat pegal karena aku harus menahan berat tubuh Rini. Aku mengganti posisi agar aku dapat kembali menikmati tubuh Rini dengan nyaman.

Kurebahkan tubuh Rini dengan posisi menyamping dan aku di belakangnya. Kuangkat kaki Rini yang kanan dan menyelipkan kaki kananku di antara kaki Rini. Kemudian, kumasukkan penisku kembali ke vagina Rini yang sudah becek karena cairan dari vaginanya.

Kulanjutkan genjotanku pada Rini, sambil menciumi seluruh tubuhnya. Tanganku meremas payudaranya yang indah dengan keras. Puting payudara Rini kupuntir dan kucubit sepuasnya. Setelah beberapa saat aku mulai mencapai puncak kenikmatanku. Aku angkat kaki Rini agar aku dapat menggenjot vaginanya dengan kecepatan maksimal.

Dengan posisi berlutut aku menggenjot vagina Rini dengan kencang. Kuangkat bagian bawah tubuh Rini agar mani yang kukeluarkan langsung masuk dan tak tumpah kemana-mana. Saat mencapai orgasme aku tak kuasa menahan getaran tubuhku. “Oh! Ah! Oh!” aku melenguh karena kenikmatan orgasme yang menguasai tubuhku.

Setelah kucabut penisku, aku tetap mengangkat bagian bawah tubuh Rini agar air maniku tidak keluar dari vagina Rini. Setelah beberapa saat, aku membersihkan tubuh Rini yang penuh air liurku menggunakan kain lapel. Kubersihkan vagina Rini dari air mani yang menetes.

Kurapikan pakaian Rini dan kuposisikan seperti orang yang tidur. Kubaringkan kedua anak Rini di tempat tidurnya. Kemudian aku kembali mengawasi mesin print yang ternyata kehabisan kertas. Jam setengah satu Fikri pulang ke rumah dan menanyakan pekerjaanku. Perbedaannya malam itu tak ada pertengkaran karena Rini masih tidur dan Fikri tidak menyadari apa yang kulakukan pada istrinya.

Kini dengan berbekal obat bius, setiap aku menginap di rumah Fikri aku selalu memperkosa Rini. Rini dan Fikri tidak pernah menyadarinya atau tidak perduli aku tidak tahu. Pernah beberapa kali aku memperkosa Rini saat Fikri sedang tidur di sampingnya. Tentu saja aku harus keluar sebelum ada masalah yang terjadi yang menyebabkanku masuk penjara.

Karena memperkosa Rini sudah mulai membosankan dan tidak menarik lagi, aku memutuskan keluar dari tempat kerja Fikri. Aku keluar dari tempat kerja Fikri karena aku sudah muak kerja tanpa dibayar oleh Fikri. Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa istri Fikri telah melahirkan.

Saat aku berkunjung ke rumah Fikri, aku melihat bayi yang tadinya berada dalam kandungan Rini. Anak Rini ternyata sangat lucu dan sehat tanpa ada cacat sama sekali. Ternyata pemerkosaan yang kulakukan pada Rini sama sekali tidak berpengaruh pada rahim Rini dan kandungannya.

Sekarang aku keluar untuk selamanya dari tempat kerja Fikri karena bosan, sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini. END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar