Breaking

Kamis, 30 November 2017

Gara-Gara Kubuat Puas Memek Keduanya, Ku Menjadi Kesayangan Mereka

Agencabul.com -  Tante Tiara yang memang keturuan china wajah oriental ini berumur 40an tahun sama dengan tante Melani dia juga seumuran, bedanya tante Melani ditinggal suaminya yang rupanya sudah memliki istri kedua tanpa sepengetahuan tante Melani, dari segi wajah mending tante Tiara karena masih kencang ketimbang tante Melani, mungkin juga kebanyakan pikiran jadi tante Melani.


Saat itu aku yang sedang jalan jalan di sebuah mall unutk mencari makanan dan kongkow tak menyangka bertemu dengan tante Melani yang mana disaat itu juga ada tante Tiara, tante Melani mengenalkanku dengan tante Tiara sebgai ponakan yang jauh. Kami pun bertemu kemudian kita makan bersama.

Setelah habis dari makan tante Melani mengajak jalan jalan untuk melihat pakain di dalam mall, aku hanya mengikuti dia dari belakang entah apa yang dibicarakan mereka berdua dia berbisik bisik dan senyum senyum aku lihat lirikan tante Tiara yang genit mencuri curi perhatiannku tak lama kemudian setelah jalan jalan di mall tante Tiara pulang duluan karena sudah sore.

“Oke, Mil. Aku pulang dulu ya, hampir sore nih. Sampai ketemu lagi Ferry” kata Tante Tiara sambil tersenyum penuh arti kepadaku yang membuat aku tambah bingung dan dia melenggang menuju carcall untuk memanggil sopirnya.

Sepeninggal Tante Tiara kami menuju food court untuk membeli minum dan istirahat. “Fer, menurut kamu Tante Tiara gimana?” tanye Tante Melani padaku setelah membeli minum dan duduk ditempat yang agak memojok dan meminum minumannya.

“Mmm.. gimana apanya Tante?” jawabku bingung mendengar pertanyaan Tante Melani sambil menyedot minuman ringan yang aku pesan. “Ah kamu ini, pura-pura nggak ngerti apa emang nggak ngerti? Ya sifat orangnyalah, bodynyalah, facenyalah dan lain-lainnyalah” jawab Tante Melani agak sewot.

“Oo, kalo sifatnya sih saya belum tau bener, kan baru sekali ketemu, tapi keliatannya orangnya baik dan ramah, terus kalo face dan bodinya mm.. biasa-biasa aja tuh” jawabku sambil tersenyum. “Emang kenapa Tante, kok Tante tanya gitu? Bikin aku bingung aja. Terus tadi ngomongin apa sih? Kok pake bisik-bisik terus Tante Tiara jadi aneh sikapnya” tanyaku pada Tante Melani.

“Fer, kamu tahukan kalo Tante Tiara itu sudah lama hidup sendiri sejak pisah sama suaminya. Nah tadi waktu Tante Tiara lihat kamu dia langsung tertarik sama kamu, dan dia nanyain tentang kamu terus ke Tante sebab dia nggak percaya kalo kamu itu keponakan jauh Tante, jadi Tante terpaksa cerita dech kedia siapa kamu sebenernya.

Kamu jangan marah ya, abis Tante Tiara itu suka maksa kalo keinginannya belum kesampaian” jawab Tante Melani. “Terus.. mm.. dia pengen sama kamu Fer.. gimana? Kamu mau nggak?” tanya Tante Melani dengan wajah serius.

“Wah gimana ya, repot juga nich kalo sampai dia ngomong-ngomong ke orang lain, bisa tercemar nama Tante. Kalo menurut Tante dia bisa jaga rahasia kita dengan cara gitu ya sudah, saya akan layani dia” jawabku serius juga.

“Tapi nanti kamu jangan lupain Tante ya kalo sudah dekat sama dia” kata Tante Melani was-was. “Ah Tante ini ada-ada saja, nggak mungkinlah saya lupa sama Tante, sayakan kenal Tante dulu baru Tante Yo” jawabku menghibur Tante Melani yang terlihat agak sedih dari ekspresi mukanya.

“Yah.. sapa tahu kamu bisa dapet lebih dari Tante Tiara dan lupain Tante deh” katanya lagi sambil menghembuskan nafas. “Jangan kuatir Tante, saya bukan tipe orang yang gampang ngelupain jasa baik orang kepada saya, jadi Tante tenang saja” jawabku kemudian.

“Okelah kalo gitu nanti Tante hubungi Tante Tiara, biar dia nanti hubungi kamu” kata Tante Melani kemudian. Setelah itu Tante Melani lebih banyak diam entah apa yang ada dalam pikirannya dan tak lama kemudian kamipun pulang. Malamnya Tante Tiara menghubungi aku lewat telepon. “Hallo Ferry, ini Tante Tiara masih ingatkan?” tanya Tante Tiara dari seberang.

“O iya masih, kan baru tadi siang ketemu, ada apa Tante?” jawabku sambil bertanya.
“Tadi Tante Melani sudah cerita belum sama kamu tentang Tante?” tanyanya lagi.
“Sudah sih, mm.. memang Tante serius?” tanyaku lagi pada Tante Tiara.
“Serius dong, gimana kamu okekan?” tanya Tante Tiara lagi.

“Kalo gitu oke dech” jawabku singkat. Lalu kami bercakap-cakap sebentar dan kami akhirnya kami janjian besok pagi dilobby hotel “XX” didaerah jakarta barat dan dia akan datang lebih awal karena akan check-in dulu, setelah itu teleponpun ditutup. Keesokannya seperti biasa aku memakai baju rapi seperti orang kerja supaya tidak terlalu menyolok dan aku menunggu di lobby hotel tersebut karena aku juga datang lebih awal, tak lama aku menunggu teleponku berdering.

“Hallo Ferry, ini Tante Tiara. Tante sudah ada diatas, kamu langsung naik aja di kamar 888 oke? Tante tunggu ya” kata Tante beritahukan kamarnya. “Oke Tante saya segera kesana, saya juga sudah di lobby” jawabku singkat dan menutup pembicaraan. Setelah mematikan teleponku agar tidak diganggu, aku naik lift menuju kamar Tante Tiara. Sampai didepan pintu kutekan bel dan Tante Tiara membukakan pintu.

“Ayo masuk, udah daritadi Tante sampai dan langsung check-in. O ya, kamu mau minum atau mau pesan makan apa? tadi sih Tante sudah pesan makan dan minum untuk dua orang, tapi kalau kamu mau pesan yang lain pesan saja, jadi sekalian nanti diantarnya” kata Tante Tiara sambil mempersilahkan aku masuk dan menutup pintu. “Yah sudah kalau Tante sudah pesan, nggak usah pesan lagi, nanti kebanyakan makanan malah bingung” jawabku.

“Kok bingung kan buat gantiin tenaga kamu he he he” jawab Tante Tiara bercanda. Kemudian Tante Tiara duduk di sofa besar yang ada didalam kamar itu dan aku duduk di sebelahnya, kami berbincang-bincang sambil menonton TV lalu aku mendekati Tante Tiara dan memeluk pundaknya, kemudian Tante Tiara merebahkan kepalanya kepundakku, kubelai rambutnya dan kukecup kening Tante Tiara.

“Mmm.. kamu romantis ya Fer, pantes Melani suka sama kamu. hh.. sudah lama Tante nggak merasakan suasana romantis seperti ini” kata Tante Tiara sambil menghembuskan nafas. “Ya sudahlah Tante, yang penting hari ini Tante akan merasakan hangat dan romantisnya cinta, karena hari ini aku milik Tante sepenuhnya” jawabku menghibur dia sambil kukecup lagi keningnya.

Tante Tiara menatapku sendu sambil tersenyum. “Terima kasih sayang” kata Tante Tiara. Dan kutatap matanya yang sendu dalam-dalam lalu kukecup bibirnya. Kecupanku dibibirnya perlahan berubah menjadi ciuman lembut yang dibalas Tante Tiara dengan lembut juga, sepertinya Tante Tiara benar-benar ingin merasakan nikmatnya berciuman yang sudah lama tidak dirasakannya.

Kami saling cium, saling kulum, dan saling memainkan lidah kemulut pasangan kami. Kugelitik lidah Tante Tiara dengan lidahku dan kusapu langit-langit mulutnya sambil kupeluk tubuhnya dan kuraba wajah dan tengkuk serta lehernya dengan tanganku yang lainnya.

“Ahh sayang, aku suka sekali ciuman kamu, mm.. ciuman kamu lebut dan merangsang, mm.. kamu memang pintar berciuman, ahh.. ayo sayang beri Tante yang lebih dari ini” kata Tante Tiara disela-sela ciuman kami dan berciuman lagi.

Tanganku mulai bergerak meremas kedua payudara milik Tante Tiara bergantian. Tapi aksi kami terganggu oleh pelayan yang mengantar makanan yang dipesan oleh Tante Tiara. Setelah pelayan keluar dan Tante Tiara memberikan tip, tiba-tiba Tante Tiara menabrak aku dan mendorong aku hingga terjatuh diatas tempat tidur dan dengan buas dia langsung memelorotkan celana dan celana dalamku, hingga penisku yang masih tidur terbebas dari sarangnya dan langsung diterkam olehnya.

Disedot, dikulum dan digigitnya penisku yang mulai bangkit dengan napsu dan buas, dan kedua tangannya tak henti-henti mengocok dan memainkan kedua bolaku. “Ahh Tante.. pelan-pelan Tante.. ahh.. enak sekali Tante.. ohh” desahku menahan nikmat yang diberikan oleh Tante Tiara padaku.

Tanganku hanya bisa meremas rambut Tante Tiara dan seprei kasur yang sudah mulai berantakan, tak lama kemudian kulepaskan kepala Tante Tiara dari penisku, kuangkat Tante Tiara dan kurebahkan dikasur. “Sekarang giliranku, Tante diam saja dan nikmati permainan ini ya” kataku sambil mengecup bibir Tante Tiara dan mulai mencumbu Tante Tiara sementara Tante Tiara hanya diam saja sambil menatapku dengan sendu.

Kumulai cumbuanku dengan menciumi bibirnya dan perlahan turun kelehernya sambil kubuka kancing baju Tante Tiara satu persatu sambil terus turun kedadanya. Setelah kancing bajunya terbukan semua. Kuraih pengait BH yang ada dibelakang dan kubuka sehingga ikatan BHnya terbuka dan ku lepaskan BH Tante Tiara lewat kedua tangannya tanpa melepas baju Tante Tiara, setelah lepas langsung kuciumi kedua payudara Tante Tiara.

Kuciumi seluruhnya kecuali putingnya yang sudah berdiri mengacung minta dikulum tapi tidak pernah kukulum, setiap kali ciuman dan jilatanku sudah dekat dengan putingnya ciuman dan jilatanku turun lagi kepangkal payudaranya dan terus turun sampai ke perut dan bermain-main dipusar sambil kujilati lubang pusar Tante Tiara lalu naik lagi terus berulangkali, kusingkap rok yang dipakai oleh Tante Tiara kemudian tanganku mulai bekerja meraba-raba paha dan lutut Tante Tiara lalu mulai melepaskan celana dalam yang dipakai oleh Tante Tiara.

Ketika permainan mulutku mencapai perutnya kutarik celana dalam Tante Tiara, dan Tante Tiara mengangkat pantatnya sehingga celana dalamnya dengan mudah lepas dari tempatnya. Kupelorotkan celana dalam Tante Tiara sampai sebatas lutut lalu ciumanku naik lagi kearah payudaranya.

Dan ketika jilatanku mendekati puting Tante Tiara tangankupun mendekati vagina Tante Tiara dan ketika bibir dan lidahku mulai memainkan puting Tante Tiara tangan dan jari-jariku juga mulai bermain dibibir vagina Tante Tiara yang ternyata sudah basah. Ketika kukulum puting Tante Tiara yang sudah berdiri dari tadi kumainkan juga kelentitnya dengan jari-jari tanganku yang seketika itu juga membuat tubuh Tante Tiara melengkung keatas.

“Akhh.. Ferry.. kamu benar-benar gila sayang, kamu kejam sekali mempermainkan Tante.. akhh.. ferry enak sekali sayang.. akhh.. gila.. kamu bener-bener gila sayang” teriak Tante Tiara histeris sambil tangannya meremas seprei dan rambut kepalaku bergantian.

Tak kuhiraukan teriakan Tante Tiara dan aku terus mengulum kedua puting dan menjilati kedua payudara Tante Tiara bergantian. Tak lama kemudian kurasakan vagina Tante Tiara bertambah basah dan tubuhnya mulai bergetar keras yang disertai erangan-erangan, akhirnya Tante Tiara mendapatkan orgasme pertamanya.

Pada saat tubuhnya mulai tenang, kulepaskan cumbuanku di payudaranya dan langsung kuangkat kedua kakinya sehingga kepalaku dengan mudah menuju kevaginanya dan langsung kujilat dan kukulum serta kusedot-sedot vagina dan kelentit Tante Tiara.

“Akhh.. ahh.. gila.. ini namanya penyiksaan kenikmatan.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. aku nggak kuat lagi sayang.. ahh.. terus sedot yang kuat sayang.. ahh.. tusuk dengan jarimu sayang.. ahh.. tusuk yang kuat.. ahh sayang.. Tante mau.. ahh.. mau dapet lagi sayang.. ahh.. kamu benar-benar gila” teriak Tante Tiara histeris memohon, lalu tubuhnya mulai bergetar lagi merasakan orgasme kedua yang datang menghampirinya.

Kuturuti permintaanya dengan menusukan jariku dan kumainkan jariku dengan menyentuhkan jariku kedinding vaginanya yang berkedut-kedut sambil terus bibir dan lidahku memainkan perannya dikelentit Tante Tiara.

Tubuh Tante Tiara bergetar keras dan pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti irama tusukan jariku sambil tak henti-hentinya menjerit-jerit histeris sambil kedua tangannya meremas dan menjambak-jambak rambutku. “Ahh.. Ferryy.. sayang.. ahh.. enak sayang.. ahh.. sodok yang keras sayang.. ahh.. sedot itilku yang kuat.. ahh.. yang kuatt..

” jerit histeris Tante Tiara mengantar orgasmenya yang kedua itu. Dan ketika tubuh Tante Tiara sudah hampir tenang lagi, kuhentikan juga semua aktivitasku dan kulepas celana dalam Tante Tiara yang masih sebatas lulut sehingga lepas semua.

Lalu kuatur posisiku dan kutusukkan penisku kedalam lubang vagina Tante Tiara. “Okhh.. jangan dulu sayang.. jangan.. ahh.. stop sayang.. stop.. biar Tante istirahat dulu” pinta Tante Tiara padaku, tapi aku tidak menghiraukan permintaanya sambil terus kutusukan penisku sampai masuk seluruhnya dan mulai kugoyang, kuputar dan kukocok penisku dalam vagina Tante Tiara.

Tak lama kemudian kuangkat tubuh Tante Tiara hingga posisi Tante Tiara kini dalam pangkuanku, dan dalam posisi Tante Tiara sedang menaik turunkan pantat dan menggoyangkan pinggulnya kulepas baju Tante Tiara yang masih melekat dan kulemparkan entah kemana lalu kubuka pengait dan resleting rok Tante Tiara dan kulepas rok Tante Tiara dari atas dan kulemparkan juga entah kemana hingga kini tidak ada selembar benangpun yang menempel ditubuh Tante Tiara lalu akupun melepaskan bajuku sendiri dan kulemparkan sembarangan.

Setelah melepaskan baju mulai kuputar-putar pantatku hingga penisku lebih menggesek dinding vagina Tante Tiara. “Akhh.. sayang.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. kamu.. ahh.. kamu memang gila.. ohh.. penis kamu benar-benar.. ahh.. kamu pintar sekali sayang.. pintar dan gila.. ahh.. Tante mau.. ahh.. mau keluar lagi.. ahh.

Tante nggak kuat lagi sayang.. ahh” jerit Tante Tiara histeris dan tubuhnya mulai bergetar mendapat orgasmenya yang ketiga, kurasakan cairan diliang vagina Tante Tiara bertambah banyak dan kurasakan juga kedutan-kedutan dari dinding vagina Tante Tiara. Lalu kurebahkan tubuh Tante Tiara dan terus kugenjot penisku didalamnya yang sekali-kali kuputar-putar pinggulku, tubuh Tante Tiara tambah bergetar dengan kencang, goyangan dan kocokan penisku juga tambah kencang.

Lalu kumainkan tanganku dikelentitnya sambil kurebahkan kepalaku kedadanya dan kusedot dan kukulum dengan kuat juga kedua puting Tante Tiara bergantian dan kedutan-kedutan dinding vagina Tante Tiara juga bertambah kuat sehingga penisku merasakan sensasi yang membuat aku merasakan sesuatu yang akan segera meledak keluar.

“Akh.. Tante aku mau keluar Tante.. akhh.. aku keluar Tante” kataku disela-sela kuluman mulutku diputingnya sambil terus mengocok penisku dengan cepat dan kuat dalam liang vagina Tante Tiara. “Ahh.. iya sayang.. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. Tante juga.. ahh.. sudah nggak kuat lagi.. ahh” teriak Tante Tiara dan memelukku dengan erat sambil tubuhnya terus bergetar, kurasakan kuku-kukunya mencakar punggungku.

Lalu meledaklah cairan kenikmatan yang kukeluarkan dalam vagina Tante Tiara yang sudah basah sehingga bertambah basah lagi, ketika kenikmatanku meledak dan tubuhku bergetar kenikmatan kukocok dengan keras dan kuat penisku dalam vagina Tante Tiara sehingga ada cairan yang keluar dari dalam vagina Tante Tiara yang kurasakan dari tanganku yang basah karena masih memainkan kelentit Tante Tiara. Tubuh kami sama-sama bergetar dengan kencang, keringat kami bersatu dan seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan jeritan kenikmatan yang kami dapatkan pada saat bersamaan.

Setelah tubuhku dan Tante Tiara mulai tenang kembali, kulepaskan penisku dari vaginanya yang sudah sangat basah, lalu kubersihkan vagina yang penuh dengan cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan jilatanku, kujilati sampai bersih dan sayup-sayup kudengan erangan pelan Tante Tiara yang memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang baru saja dia dapatkan.

Setelah bersih kurebahkan tubuhku disamping Tante Tiara, lalu kupeluk dia dan kukecup pipi Tante Tiara. “Ahh.. terima kasih sayang.. terima kasih daun mudaku.. uhh.. rasanya tubuhku ringan sekali bagaikan kapas yang masih terbang diawang-awang, ahh.. nikmat sekali tadi kurasakan, kamu memang pintar sayang, baru sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti tadi, sampai lemas tubuh Tante” kata Tante Tiara sambil membuka matanya dan tersenyum padaku.

“Ah Tante Tiara bisa aja.. aku juga tadi nikmat sekali, kedutan dinding vagina Tante Tiara membuat penisku merasakan seperti diremas-remas, nikmat sekali” balasku sambil kuusap keringat yang ada di keningnya dan kukecup kening Tante Tiara, lalu aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang penuh dengan keringat dan disusul oleh Tante Tiara dan kamipun saling membersihkan tubuh.

Selesai membersihkan tubuh dan dalam keadaan masih bugil kami lalu menyantap makanan yang tadi dipesan oleh Tante Tiara sambil bercakap-cakap dan bercanda, sedangkan tangan Tante Tiara tidak pernah lepas dari selangkanganku. Selesai makan kami melanjutkan percakapan kami diatas tempat tidur sambil saling memeluk hingga akhirnya kamipun tertidur untuk memulihkan tenaga yang akan membuat pertarungan berikutnya lebih seru lagi.

Dan mulai sejak itu jadilah aku daun muda kesayangan Tante Tiara dan Tante Melani

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar