Breaking

Selasa, 07 November 2017

Cerita Sex Ngentot Bersama Abg Mulus

Cerita Sex - Cerita dimulai saat malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi.
Cerita Sex Ngentot Bersama Abg Mulus
Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Murni sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni entah nglayap kemana.
Yang ada tinggal Julia , si bungsu dan Lili, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Julia datang menghampiriku.

“Lagi nggak ngapel nih, Mas Ivan?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Julia memang orangnya ramah banget)

“Ngapel sama siapa, Julia ?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.

“Ah… Mas Ivan ini pura-pura lupa sama pacarnya.”

Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Julia cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.

“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.

Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Julia . Gadis 14 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Yah, kacian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”
Aku menghentikan petikan gitarku.

“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Julia deh ketimbang sama dia.”

Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Julia ada mau sama aku.
Julia , kok diam aja? Malu yah…”

Julia melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja.

Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Julia yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu.

Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Ivan bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”

“Yah Julia , malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Ivan, iya nggak?” pancingku.

“Ah, Mas Ivan ini bisa aja godain Julia ..”

Julia mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?

“Mau nggak Mas, tolongin Julia ?”

“Ada upahnya nggak?”

“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”

Cubitan kecil Julia kembali memburu di pahaku. Siiiir… kok malah tambah merinding begini ya?

“Kalau diupah sun sih Mas Ivan mau loh.” pancingku sekali lagi.

“Aah… Mas Ivan nakal deh…”

Sekali lagi Julia mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Julia biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, Julia ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Ivan aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.
Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Lili kalo kamu kemari?”

“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Ivan.”

“Trus si Liligimana? Nggak marah?”

“Ya enggak, ngapain marah.”

“Sendirian dong dia?”

“Mas Ivan kok nanyain Lilimulu sih? Sukanya sama Liliya?” ujar Julia merajuk.

“Yee… Julia marah. Cemburu ya?”

Julia merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

Julia udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.

“Belum tuh.”

“Pacaran juga belum pernah?”

“Katanya Mas Ivan mau ngajarin Julia pacaran.” balas Julia.

Julia bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.

“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Julia tertunduk malu. “Julia suka sama mas Ivan?”

Julia memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Julia.

Julia suka sama Mas Ivan?” ulangku.

“Iya.” gumamnya lirih.

Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…

“Mas Ivan mau ngesun Julia Julia nurut aja yah…” bisikku ke telinga Julia

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Julia menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.

Mmm..muah… kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Julia mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit.

Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara Julia penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang Julia . Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Julia.

“Engh.. Masss… jangan… aku uuuh…”

Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Julia.

Julia … kaosnya dilepas ya sayang…”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Julia satu persatu dengan tangan kananku.

Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Julia bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Julia kehilangan kenikmatannya. Jemari Julia menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Julia ciptakan.

Kaos pink Julia terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Julia dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow… payudara Julia (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Julia . Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Julia memicingkan mata.

Julia … adekmu udah gede banget Julia …”

“Udah waktunya dipetik ya mass…”

“Ehem, biar aku yang metik ya Julia …”

Aku berada di atas Julia . Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Julia.

Putar… putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.

“Auh…Mass.. Aku nggak tahan Mass… kayak kebelet pipis mas..” rintih Julia .

Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Julia dengan mulutku.

“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.

“Mass… sakiit…” rintih Julia sambil memegangi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Julia sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Julia menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Julia telah basah.

Julia kencing di celana ya Mass?”

“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”

Julia tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar.

Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Julia . Merah merona, vagina yang masih perawan.
Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.

“Tahan ya sayang…engh..”

“Aduh… sakiiit mass…”

“Egh… rileks aja….”

“Mas… aah!!!” Julia menjambak rambutku dengan liar.

Slup… batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Julia yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.

“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih Julia.
Julia Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.

“Jruub…”

Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Julia. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.
Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.

“Sakit sayang…” kataku.

“Enakkk…eungh…” Julia menyukainya.

Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Julia berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Julia melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahhh..” desis Julia ketika tanganku mulai meremas-remasnya.

“Mass aku mau pipis…”

“Pipis aja Julia … nggak papa kok.”

“Aaach…!!!”

“Hegh…engh…”

“Suuur… crot.. crot.. ”

Lendir kawin Julia keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah…” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Julia menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Julia terlelap kecapaian.

Kreek… Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Liliterpaku di depan pintu memandangi tubuh Julia yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Liliyang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Julia masuk tadi Lilimengintip di depan kamar.

Lili? Ng… anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Lili.

Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Julia . Pantas saja kalau dia lebih matang dari Julia . Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Julia , tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Julia , apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal…”
“Asal apaan?”

Mata Lilisayu memandang ke arah Julia dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Lili sengaja memancing birahiku.

Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Lili membarakan gairahku lebih jauh.

Lili duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.

“Mas Ivan.. sini.. ay…”

Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.

“Ayo.. mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.

Aku gantiin Lili meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Lili sudah nafsu banget. “Eahh.. mmhh…” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.

“Eahhh.. mas.. sakit.. enak….”

 Lili memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. “Ers… tanganmu nakal banget…” Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Lili bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.
“Auh…”

Lili menekan batang penisku.

“Ers… sakit sayang” keluhku diantara payudara Lili.

“Habis dingin kan mas…” balasnya.

Setelah puas aku pandangi wajah Lili.

Lili , mau jurus baru Mas Ivan?”

Gadis itu mengangguk penuh semangat.

“Kalau gitu Lili tiduran di lantai gih!”

Lili menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Lili mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya.

Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmmm… enghh…”

Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.

Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Lili untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Lili segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).

Lili bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Lili, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya.

Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Lili . Ukuran vagina Lili sedikit lebih besar dibanding milik Julia , bulu-bulunya juga lebih lebat milik Lili . Dan klitorisnya… mmm… mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.

“Ngngehhh…uuuhh..” lenguh Lili sambil terus melumat senjataku.

Sedang lendir kawinnya keluar terus.

“Erss… isep sayang, iseppp…” kataku ketika aku merasa mau keluar.

Lili menghisap kuat-kuat penisku dan crooott… cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Lili Lili berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.

“Aha…” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Lili berbisik, “Mas.. aku udah nggak tahan…”
Sambil berbisik Lili memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.

Aku minta Lili menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.

“Sakit Mas…”

Sulitnya masuk liang kawin Lili , untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.

“Nggeh… dikit lagi Ers…”

“Eeehhh… waaa!!”

“Jlub…” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Lili . Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.

“Eeehh… terus mass… uhh…”

Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Lili  meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Lili . Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Lili menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Lili kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Julia .

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Rere.
Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Julia ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Lili . Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Julia sudah memudar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar