Breaking

Selasa, 21 November 2017

Berawal Dari Nomor Yang Tidak KuKetahui Ibu Rumah Tangga Yang Sangek Berat

Agencabul.com - Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang ibu rumah tangga, yang entah bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui nomor cellulerku.


Siang itu saat aku sedang menikmati masa istirahatku di kantin, tiba-tiba cellulerku berbunyi.

“Hallo, selamat siang Elwin suara perempuan yang manja terdengar.

“Hallo juga, siapa ya ini?” tanyaku serius.

“Namaku Elaine kata perempuan tersebut mengenalkan diri.

“Maaf, Mbak Elaine tahu nomor HP saya darimana?” tanyaku menyelidik.

“Oya, aku temannya Via dan dari dia aku dapat nomor kamu” jelasnya.

“Ooo, Mbak Via” kataku datar.

Aku mengingat kembali kisahku sebelumnya yang berjudul Kisah bersama Ibu Muda. Via seorang sekretaris yang juga ikut ‘mewarnai’ kehidupan sex aku.

“Gimana khabar Mbak Via?” tanyaku.

“Baik, dia titip salam kangen sama kamu” jelas Elaine.

Sekitar 5 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang yang sudah kenal lama. Suara Elaine yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisik dari wanita tersbut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Elaine membuyarkan lamunanku. Cerita Dewasa

“Hallo.. Elwin, kamu masih disitu?” tanya Elaine.

“Iya.. iya Mbak..” kataku gugup.

“Hayo mikir siapa, lagi mikirin Via ya?” tanyanya menggodaku.

“Nggak kok, malahan mikirin Mbak Elaine tuh” celetukku.

“Masa sih.. Jadi GR nih” dengan suara yang menggoda.

Elwin, boleh kan kalau aku mau ketemu kamu?” tanya Elaine.

“Boleh aja Mbak.. Dengan senang hati” jawabku semangat.

“Oke deh, kita mau ketemuan dimana?” tanyanya semangat.

“Terserah Mbak deh, Elwin ngikut aja” jawabku pasrah.

“Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di excelso di Tunjungan Plasa” katanya.

“Oke, sampai nanti Elwin.. Aku tunggu jan 18.00″ sambil berkata demikian, HP nya langsung off.

Waktu menunjukkan pukul 16.30, tiba saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke Tunjungan Plaza. Sebelumnya aku prepare di kantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari aku membawa karena memang aku sering olahraga setelah jam kantor.

Tiba di TP, aku segera memarkir mobil starletku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku menunjukkan pukul 18 kurang seperempat. Aku segera menuju ke excellso seperti yang dikatakan Elaine.

Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa melihat orang hilir mudik di area pertokoan terbesar di Surabaya ini. Saat mataku melihat situasi di sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya yang duduk sendirian. Menurut tebakan aku, wanita ini berumur sekitar 35 tahun ke atas. Wajahnya yang lumayan putih, membuat aku tertegun. Mataku yang mulai nakal, berusaha menjelajahi pemandangan yang sangat menggiurkan di depanku. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih di balik rok mininya, membuat semakin aku gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya aku jika orang tersebut adalah Elaine yang menghubungi aku siang tadi.Cerita Dewasa

Disaat aku membayangkan sosok di depan mataku, tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdegup kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku.

“Maaf, kamu Elwin ya?” tanyanya sambil menatapku.

“Iy.. iyaa.. Kamu Elaine?” tanyaku balik sambil berdiri.

Jarinya yang lentik menyentuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesir ketika tangannya yang halus meremas tanganku dengan halus.

“Silahkan duduk May” kataku sambil menarik satu bangku di depanku.

“Terima kasih” kata Elaine sambil tersenyum.

“Dari tadi anda duduk disitu kok tidak langsung kesini?” tanyaku.

“Aku tadi sempat ragu, apakah kamu memang Elwin jelasnya.

“Aku tadi juga berpikir, apakah wanita yang cakep ini kamu?” kataku sambil senyum.

Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling canda, saling menggoda dan sesekali bicara yang ‘nyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah sempurna saja wajahnya yang semakin matan.

Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Elaine adalah seorang wanita yang sedang tugas di Surabaya. Elaine adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya.

“El, kamu kenal Via dimana?” tanyaku mnyelidik.

“Via adalah teman chattingku di YM, aku dan via sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga untuk kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun.” mulut mungil Elaine menjelaskan dengan penuh semangat.

“OOo, begitu..” kataku sambil manggut-manggut.

“Ini adalah hari pertamaku di Surabaya dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku selesai” jelasnya tanpa aku tanya.

“Sebenarny tadi Via juga mau dateng tetapi karena ada acara keluarga, mungkin besok baru bisa dateng” jelasnya kembali.

“Memang Mbak Elaine nginap dimana?” tanyaku.

“Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E..” jelasnya.

“Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku menyelidik.

“Ya sendirilah, Elwin.. Makanya saat itu aku tanya Via” kata Elaine.

“Tanya apa?” tanyaku mengejar.

“Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di Surabaya” kata Elaine.

“Dan dari situlah aku tahu nomor celluler kamu” lanjutnya.

Tanpa terasa jam tanganku menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mau tutup.

“Dan.. Kamu mau anter aku balik ke hotel?” tanya Elaine.

“Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Elaine sendirian balik ke hotel” kataku.

Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa.

Aku dan Elaine bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Elaine menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika aku berjalan di belakangnya.

“Silahkan duduk Dan, aku mau mandi dulu” kata Elaine sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang.

Mataku menyelidik, apakah benar Elaine sendirian dalam kamar. Dan memang benar kelihatannya dia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak hanya beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang. Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Elaine, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang molek.

Elwin, aku minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak bisa dibuang” kata Elaine sambil tetap berdiri di muka pintu kamar mandi.

Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika aku melewati tubuh Elaine, mataku yang nakal sedikit mencuri pandang di belahan dada Elaine yang terkesan menyembul keluar karena terhimpit ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, aku segera menuju bathup yang dimaksud oleh Elaine.

Aku menggunakan tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup bathup yang memang rapat sekali. Aku berusaha membuka secepatnya karena pikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan akhirnya”sswaasshh..” suara air langsung keluar ketika karet penutupnya sudah terlepas.

“Oke El.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya” kataku sambil masih membelakangi tubuh Elaine yang sedang berdiri di belakangku. Ketika aku membalikkan badanku, betapa kagetnya aku dengan pemandangan di depan mataku. Tubuh Elaine tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang melekat di tubuhnya tadi.

“Ma-Maaff.. Aku mau keluar May” kataku gugup.

Elaine tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan memeluk tubuhku, dan merangkul leherku dengan erat.

“Dan, Via sudah ceritakan kehebatan permainan sex kamu” aroma bau mulutnya yang segar, membuat jantungku semakin berdetak kencang.

“Mmm, anu Mbak.. Mungkin Via terlalu berlebihan” kataku.

“Berikan aku kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil Elaine langsung mendarat di bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku.

Lidahku yang sudah mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran lidah Elaine. Tanganku yang tadi hanya berdiam diri, sekarang aku beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang montok mendesak dadaku yang bidang. Sesekali tanganku mulai semakin berani menjelajahi pinggul Elaine, pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak 35 tahun. Aku meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu membuat nafsu Elaine semakin naik.

Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang jenjang menjadi sasaran empuk bibirku yang mulai menari-nari di atasnya.

“Ooohh.. Elwin.. Geelli..” desah Elaine.

Serangan bibirku semakin menjadi di leher Elaine, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku.

Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku semakin terbawa dalam aliran birahi yang meledak-ledak, bibir Elaine yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku.

Jari jemarinya yang lentik, sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang aku kenakan.

Disaat aku mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang semakin liar, sepertinya tidak ingin menyisakan sedikitpun dada bidangku.

Darahku mendesir hebat hingga membuat aku terangsang hebat, ketika lidahnya menari di puntingku. Daerah yang paling sensitif di tubuhku, yang bisa menggugah nafsu birahiku secara sepontan.

“Ohh.. El.. Aaakh” aku merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku.

Elaine benar-benar sudah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa aku sadari ketika aku sudah merasakan kaki sudah dingin. Ternyata Elaine sudah melepas jeans yang aku pakai sebelumnya, sehingga sekarang aku hanya menganakan celana dalam saja.

Lidahnya semakin lama semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua pantatku sehingga aku benar-benar terangsang hebat.

Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan mudah menarik CD ku dari belakang.

“Gila.. Pantes Via puas, habis penismu gede seperti ini” kata Elaine memuji.

Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu CD yang membatasinya akhirnya bisa lepas. Aku melihat kebawah dan melihat Elaine yang sedang tertegun dengan besarnya penisku. Penisku berdiri tegak sekali dan sesaat kemudian.

“Mmm.. Srup.. Srupp” mulut Elaine yang mungil mulai mengulum batang penisku.

“Aakhh.. El.. Nikmmaat.. Sekkalii” rintihku.

Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Elaine, utnuk memudahkan bergerak maju mundur dan ketika penisku benar-benar terlean dalam mulut Elaine, kenikmatan yang luar biasa aku rasakan ketika ujung penisku menthok pada dasar mulut Elaine.

“Sss.. Eeelll.. Uhh” aku mendesah kenikamatan.

Elaine tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, wanita itu denagn buasnya mengulum, menjilat, mengocok dan mengoral batang kemaluanku.

Sampai aku tidak kuat berdiri.

Setelah Elaine puas dengan aksinya, Elaine bangkit dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah selangkangan aku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga tubuh Elaine terduduk di kloset. Aku langsung jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesir hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan bibir vagina.

Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya.

“Sss.. Winnn.. Nikmaat sekali.. Ughh” rintih Elaine.

Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku di ujung clitorisnya. Gerak tubuh Elaine yang terkadang berputa-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin berani menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya.

ELwinnn.. Gilaa banget lidah kamu..” rintih Elaine.

“Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan..” pintanya.

Lidahku bergerak keluar masuk dalam lubang vaginanya, sesekali aku memancing clitorisnya untuk segera keluar dari persembunyiiannya.

Paha Elaine dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilat, mengulum, dan sesekali menghisap dalam-dalam clitorisnya. Aku perhatikan Elaine merem melek menikmati nakalnya lidahku dan sesekali aku perhatikanl, wanita tersebut mengigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejolak di hatinya.

“OOhh.. Elwin, aku nggak tahan.. Ugh..” rintihnya.

Semakin Elaine merintih, mendesah dan mengerang, semakin membuat nafsuku bergejolak. Sampai aku rasakan beberapa cairan yang terasa asin, dan aku semakin bernafsu untuk menjilatinya.

“Elwin.. Danddyy.. Ooogghh..” Elaine merintih panjang.

Dibarengi dengan tubuhnya yang kejang-kejang, dan terasa pahanya menggapit kepalaku dengan kencang. Jari nya yang lentik meremas rambutkuyang sedikti gondrong.

Elaine terpejam sejenak menikmati lelehnya cairan yang meluber dari lubang vaginanya, lidahku tiada henti menerima luapan cairan bening yang wangi tersbut. Seakan-akan aku tidak peduli dengan orgasme yang didapat Elaine pertama kalinya. Dan ketika aku rasakan cairan tersebut sudah bersih, aku membimbing tubuh Elaine yang masih lemas. Aku mendekap tubuh Elaine dari belakang, kami berdua menghadap cermin.

“Ohh.. Elwin..” Elaine mendesah ketika lidahku mulai menyentuh bagian belakang telinganya. Tangannya menggapai leherku, dan tanganku sepontan meraih buah dadanya dari belakang. Dengan sentuhan yang sangat halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang. Jari telunjuk kananku bergerak menggesek clitoris Elaine yang sduah mulai basah kemabli.

“Danddyy..” Elaine kembali mendesah.

Peralahan aku mengangkat kaki kanan Elaine dan aku sandarkan di wastafel kamar mandi. Sehingga Elaine hanya berdiri dengan satu kaki saja, batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaan Elaine dan sekali hentak.

“Bleesst..” kepala penisku mengoyak vagina Elaine.

“Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kamu” Elaine merintih.

Perlahan aku beregark maju mundur di lubang vagina Elaine, sampai akhirnya aku merasakan cairan yang cukup di lubang vagina Elaine. Sekali tekan “bless” seluruh batang kemaluanku masuk dalam lubang senggama Elaine dan bersama dengan itu, tubuh Elaine sedikit terangkat.

“Hekk.. Danndyy.. Nikmatt sekalii.. Oooh” Elaine merintih kembali.

Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Elaine menggelinjang hebat dan sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa di batang kemaluanku.

“Danddy.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh” pinta Elaine.

Nampak jelas di cermin aku lihat wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang kemaluanku semakin menjadi. Aku merasakan sekali ujung penisku bergerak masuk sampai di ujung kemaluan Elaine.

Wanita tersebut menggoyang kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Kedua tanganku meremas kedua bukit kembar Elaine dan sesekali membantu pinggul Elaine utnuk berputar-putar.

“Danddy.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh” tangan Elaine bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke atas kebawah, kesmaping kiri kanan seperti orang yang lagi triping.

Beberapa saat kemudian Elaine seperti orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Elaine semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyak dinding vagina Elaine.

“Danddy.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti..” Elaine meminta.

Permainanku tersebut benar-benar memancing birahi Elaine untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Elaine benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar hebat.

“Danddyy.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang” rintih Elaine.

Gerakan penisku seperti goyangan anisa bahar yang patah-patah, membuat birahi Elaine semakin tak terkendali.

“Dann.. Ddy.. Aaammppunn” rintih Elaine panjang.

Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Elaine. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku.

“Creek.. Crek.. Crek..” suara penisku masih bergerak keluar masuk di lubang vagina Elaine. Aku semakin tidak peduli dengan Elaine yang sudah mendapatkan kedua orgasmenya, karena aku sendiri lagi berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Perlahan, aku turunkan kaki kanan Elaine yang pada posisi pertama aku naikkan ke atas wastafel.

Posisi Elaine, sekarang sedikit menungging dengan posisi berdiri. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang vagina Elaine.

“Ohh.. Dandyy.. kamu.. memang.. ahli..” kata Elaine sambil merintih.

Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Elaine dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya.

“May.. vagina kamu memang asyik banget” pujiku.

“Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?” tanyaku.

Elaine hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijat oleh vagina Elaine dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku benar-benar bisa diterima Elaine karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku.

Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.

“May.. Aku mau.. Keluuar..” kataku mendesah.

“Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus..” Elaine merintih.

“Dandyy.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu..” pinta Elaine.

“Iya El.. Ooogh.. Akakhh..” rintihku.

Gerakan maju mundur dibelakang tubuh Elaine semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama.

“Danddy.. Aku.. Aku.. Nggaak kkuaat.. Aaakhh” rintih Elaine.

“Aku juga El.. Oohh.. Eeelll aku merintih.

“crut.. Crut.. Crut..” spermaku muncrat membanjiri vagina Elaine.

Karena begitu banyaknya spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Elaine. Setelah beberapa saat kemudian Elaine membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku.

Elwin ternyata Via memang benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa” kata Elaine merintih.

“Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja” kataku merendah.

“Kamu luar biasa..” Elaine tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu.

Tanpa terasa kami berdua sudah naik di dalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air di pancuran shower membuat tubuh Elaine yang molek seperti bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, aku menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya Elaine. Aku mnggosok-gosokkan sabun ke seluruh tubuh Elaine, sesekali jariku yang nakal memilin punting Elaine.

“Ughh.. Elwin..” Elaine merintih dan bergetar saat aku permainkan puntingnya yang memerah.

Untuk yang kesekian kalinya, kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali Elaine seorang wanita yang sedang butuh kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berdua memburu birahinya yang tidak pernah kenyang.

Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 wib, dimana aku harus segera balik kerumah karena celullerku berapa kali tadi berbunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar