Agencabul situs Video Bokep dan Foto dewasa terbaru di tahun 2017 Cerita Dewasa Berujung Ngentot ~ Kumpulan video dan Cerita Dewasa

Sabtu, 11 Juni 2016

Cerita Dewasa Berujung Ngentot


Agencabul | Kembali lagi ke bangku kuliah… seperti pada umumnya… kuliah… ,ikuli uyah… begitu kental dengan pendidikan. Walaupun ternyata tidak tutup mata juga di sana banyak terdapat praktek mesum. Kebiasaanku sejak kuliah emang gak bisa gue ubah, gue yang hobby seka iseng sms-sms kenomer yang tinggal gue acak sering kali berujung cacian dari orang yang gue gak kenal tersebut. Kadang juga dapat yag membalasnya dengan ramah, bahkan ada juga yang sampai berteman sampai sekarang, tapi cacian lebih banyak karena setelah smsku dibales gue terus sms yang jorok-jorok kepada orang itu, tapi yang perlu diketaui gue hanya meneruskan isengku itu jika nomer yang gue ack adalah nomer wanita karena gue masih normal dan mash menyukai wanita, hehe.. itulah kebiasaan burukku yang tak pernah bisa berubah. Cerita Sex
Namgue Maulana, sekarang gue sudah lulus dari kuliah dan gue sekarang sudah bekerja disebuah kantor koperasi. Jika gue sedang longgar tidak ada kerjaan, kebiasaanku muncul kembali, gue sering tertawa sendiri dikantor hingga gue dikatakan yang tidak-tidak oleh temanku. Gue sering ketawa ngakak ketika gue medapat caci maki karena gue merasa gue berhasil. Sampai suatu ketika gue sms nomer acak tapi yang gue sms ini membalasnya dengan sangat baik dan halus kata-katanya. Ini baru pertama kali yang gue menemukan orang yang seperti ini. Jaran-jarang gue mendapatkan balasan sms secara halus kayak gini. Cerita Sex Terbaru
Dari sms itu akhirnya gue mengajaknya berkeMaulanan dan gue pun mengetahui namanya adalah Brenda. Setalah iseng sms ku hari itu dan gue mendapatkan balasan yang sangat nyaman, gue lantas melanjutkan hubungan kita hanya melalui HP. Semakin hari kini gue sering menelponnya saat istirahat kerja dan Brenda orangnya sangat enak untuk diajak mengobrol. sempat gue tanyakan kepadanya apakah Brenda sudah mempunyai cowok, Brenda pun menjawab belum. Gue lebih bersemangat mendekatinya, karena kalau didengar dari suaranya Brenda ini orangnya cantik. Suaranya yang lembut, nadanya yang manis, membuat gue ketagihan untuk selalu menelponnya. Cerita Mesum
Seminggu kami sms dan telpon-telponan, gue berniat mengajak Brenda untuk ketemuan. Ketika jam istirahat gue langsung menelponnya, dan setelah gue ajak Brenda untuk ketemu Brenda pun juga mau, lantas kami janjian disebuah cafe yang ada di mall. Keesokan harinya gue lantas ijin untuk tidak bekerja, dan gue berdandan sangat rapi. Jam 10 gue langsung meluncur ke cafe dan sampai disana gue merasa kebingungan karena gue belum pernah melihat Brenda sama sekali. Sampai depan cafe, gue mengambil HP ku dan gue menelpon Brenda sambil gue memandangi seisi café tercebut karena pada siang itu suasana cafe belum ramai, jadi gue bisa melihat semuanya. Cerita Sex ABG
Setelah gue telpon, terlihat dari kejauhan ada seorang wanita yang mengangkat telponnya, dan
“kamu pakai baju putih ya Brend” tanya gue.
“Iyha mas, kamu udah sampai ya??” tanya Brenda balik.
“Iyha gue sudah sampai, gue langsung kesitu” jawabku bersemangat. Gue langsung menghampiri Brenda, dan samai dimejanya gue sangat tertegu melihat penampilan Brenda, orangnya cantik sekali, kulitnya putih kecoklat-coklatan, rambutnya panjang sepinggang, payudaranya padat berisi, dan yang membuat gue klepek-klepek adalah senyumnya yang sangat manis sekali dihiasi dengan lesung di pipinya, gue seperti mimpi saja. dan saat gue bengongn, Brenda menegurku
“Eeehhh…Mask ok bengong ngliat apa??”.
“Eeennngg…Eeennggg…Gaaak ngeliat apa-apa kok Brend, maaf ya kamu udah menunggu” jawabku sambil sedikit bengong dengan penampilan Brenda. Cerita Sex DaunMuda
Setelah itu kami langsung memesan makanan, kita juga sambil mengobrol. tak berapa lama makanan datang dan Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan di sebuah food court.
“Maulana, suka nyanyi-nyanyi gak??” tanya Brenda setelah kami selesai makan.
“Suka, tapi tidak di depan umum” begitu jawabku.
“Sama dong Kalo gitu, mau gak kamu saya ajak untuk nyanyi di karaoke Kita bisa pesan private room kok, jadi tidak ada orang lain” tanya Brenda.
“Asyik juga ya, untuk melepas lelah” jawabku. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat menggunakan mobilku. Cerita Sex Perawan
Setibanya di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Brenda permisi kepadaGue untuk ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Brenda kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian tajam. Namun, tidak kupedulikan.Segera kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi. Sampai tibalah kami di lagu yang kelima. Brenda memesan lagu yang lembut, dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung tanganku menyentuh punggung tangan Brenda. Halus sekali, pikirku. Sayang sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga kubiarkan saja di situ. Brenda pun diam saja, tidak berusaha melepaskan sentuhan tangannya dari tanganku. Dingin ya?, tanya Brenda, kepadaGue, sambil melihat tanganku. Iya, jawabku mengangguk lemah. Segera Brenda mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam jari-jarinya. Cerita Sex Tante
Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut. Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali Gue mengelus pipinya yang lembut, namun Gue agak takut-takut. Perlahan-lahan Brenda mendekatkan bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.Wangi aroma tubuh Brenda segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Brenda. Ia menatapku. Gue balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Brenda diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Brenda benar-benar kuperlguekan seperti pacarku sendiri. Cerita Sex HOT
Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Brenda sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Brenda dengan rasa sayang.Tiba-tiba Brenda menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Brenda diam saja. Gue mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Gue semakin berani. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Brenda mendesah. Ssshh, desahnya.Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Brenda mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini, pikirku karena memang Gue belum pernah berciuman dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena Gue belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami.
Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Brenda. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Brenda. Brenda kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Brenda menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya. Segera terasa tanganku menyentuh Memeknya yang hangat dan basah. Montok kan punya gua?, begitu ungkap Brenda saat tanganku mengelus lembut Memeknya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal Gue tidak bisa membedakan seperti apa Memek yang tidak montok. Kuusap terus Memeknya, seraya desahan Brenda mengiringi gerakanku.
“Ssshhh.. Oh, Maulana, Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukan dengan lembut” begitu terus desahnya. Tersanjung juga Gue dipuji dirinya.Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. Maulana, kamu jangan pulang dulu ya. Gue ingin dikelonin sama kamu.
“Temani sebentar Gue di hotel ya?”, tanya Brenda kepada gue. Saat itu, Gue agak takut. Takut Gue tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Brenda mengerti ketakutanku. Gue cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Maulana?, tanyanya dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, Gue takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, Gue banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat Gue tidak tega menolaknya.
“Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?”, jawabku. Iya, gua janji deh, kata Brenda lagi.
Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Brenda menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, Gue menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Brenda membentangkan tubuhnya di kamar tsb.
“Maulana, sini dong”, kata Brenda. Gue mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Brenda. Gue dalam posisi duduk, sementara Brenda sudah telentang.
“Maulana, belai Gue lagi ya”, kata Brenda. Segera tanganku mengelus dahi Brenda. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang. Brenda menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Brenda membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Brenda benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Gue hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Brenda menjerat bibirku di bibirnya. Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Brenda segera menghisap bibirku tersebut.
Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.Brenda meronta-ronta dan mendesah. Aduh Maulana, geli sekali. Teruskan Maulana, katanya. Kucumbu Brenda terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Brenda mendesah hebat.
“Ssshh.. sshh.. ohh”, desah Brenda. Gue tidak bisa menahan diriku lagi. Brenda, boleh kubuka bajumu?, tanyaGue pelan kepada Brenda. Brenda mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna biru. Kulanjutkan ciumanku di seputar payudaranya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Brenda mengerang. Maulana, buka BH gua dong, pinta Brenda. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka BHnya. Sulit sekali membuka BHnya. Maklum, belum pernah Gue membuka BH wanita.Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan BHnya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting kecoklatan. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali Gue menciumnya. Kupindahkan BHnya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut.
Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari tokednya. Brenda mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke toked kanannya. Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak tokednya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Brenda mengerang-ngerang.
“Aduh, Maulana..ssh..ssh.. geli sekali. Terus Maulana..” Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. Auw.. enak Maulana.., Brenda menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 25 menit Brenda keperlakukan seperti itu.
“Maulana, bukain celangue dong”.., pinta Brenda. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi Celana Dalam warna hitam. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya.
“Oouuuhh”.., rintih Brenda menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus Memeknya yang masih tertutupi celana dalam. Ternyata celana dalamnya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Brenda meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya.
“Oh.. ohh.”. ronta Brenda. Gantian tangan Brenda yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya Penisku, lalu dikocok pelan-pelan.
“Uuh”, nikmat sekali rasanya..
“Maulana, buka celana dalam gua”.., pinta Brenda.
“Jangan Brenda, gua gak berani melakukan itu”.. kataGue.Gue bukan bermaksud munafik, tapi Gue memang benar-benar takut saat itu, karena belum pernah melakukannya.
“Tak apa-apa, Maulana, tidak usah dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja,” pinta Brenda memohon. Akhirnya kubuka celana dalam Brenda. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh, indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku.
“Elus lagi, Maulana..”, pinta Brenda.
Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir Memeknya yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi Brenda meronta.
“Ohh..ohh. Ke atas lagi Maulana. Elus klitorisku,” begitu desahnya perlahan. Gue tidak tahu persis di mana klitoris. Gue terus mengelus bibir Memeknya. Segera tangan Brenda membimbing tanganku ke klitorisnya.Baru sekali itu Gue tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 8 putaran, Brenda langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2 menikmati perlakuanku. Maulana, tolong hisap klitorisku, yah?, pinta Brenda. Gue sedikit ragu, dan jijik.
“Pake tangan aja yah, Brenda..”, Gue berusaha menolak dengan halus.
“Tolong dong, Maulana. Sekali ini saja. Nanti gantian deh “, pinta Brenda. Gue masih berat hati menghisapnya.
“Brenda, maaf ya. Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti..”. Belum selesai Gue bicara, Brenda segera memotongku.
“Kemaluanku bersih kok, Maulana. Gue selalu menggunakan antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok” , pinta Brenda lagi.Perlahan-lahan kudekatkan mulutku ke memeknya Brenda. Segera tercium aroma yang tidak bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Gue takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke Memeknya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa.
“Terus, Maulana..ohh.. enak sekali”, desah Brenda. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang menjilati Memeknya. Brenda makin mendesah.
“Oooggghhhh.. Oouuhh.. Oouuhh.. Oouuhh…” Brenda menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang Memeknya.
“Kamu nanti tidak kesakitan?”, tanya gue kepadanya. Ia menggeleng pelan. Lalu, kuputar-putar jariku di dalam Memeknya.
“ Ahh..,” Brenda menjerit kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke Memeknya.Saat kuarahkan jariku ke langit-langit memeknya, terasa ada bagian yang agak kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali.
“’Ya, terus di situ Maulana.. ahh.. enak sekali.”’. Kuteruskan untuk beberapa saat. Brenda makin membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Brenda menggerakkan pantatnya ke atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku.
“Ah Maulana.. Gue mau keluaar.”. erang Brenda. Brenda makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepalaGue dengan pahanya. Ahh..
“Maulana..Gue keluar”, desahnya. Segera kupeluk tubuh Brenda, dan kugenggam tangannya erat.
Kubiarkan Brenda menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya.
“Maulana, enak sekali”, kata Brenda. Gue diam saja.Sekarang gantian, ya, kata Brenda. Gue mengangguk pasrah, antara mau dan takut. Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang. Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu. Segera kututupi Penisku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Brenda mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar. Gue merasa lebih tenang jadinya. Lalu, dibukanya pahaGue yang menutupi Penisku. Brenda segera meraba-raba Penisku. Oh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu membuatku secara refleks menggelinjang. Brenda tertawa.
“Enak kan, Maulana?” tanyanya menggodaGue. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua.
“Mau diterusin gak, Maulana?” tanya Brenda sambil menggoda lagi. Gue hanya mengangguk.Saat itu Penisku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat adegan yg sedikit porno, punyaGue langsung keras.
Akhirnya Brenda mendekatkan mulutnya ke Penisku. Dikecupnya ujung Penisku perlahan. Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. Maulana, punya kamu enak. Bersih dan terawat, ujar Brenda. Geer juga Gue dipuji begitu. Dipegangnya gagang Penisku, lalu Brenda mulai menjilati Penisku. Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek Gue meronta, melepaskan Penisku dari mulut Brenda.
“Kenapa, Maulana?”, tanya Brenda.
“Gua gak tahan. Geli banget, sih?”, kataGue protes.
“Ya udah, pelan-pelan aja, ya?”, kata Brenda. Gue mengangguk lagi. Brenda mulai memperlambat tempo permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti rasa nyaman.Kuperhatikan Brenda menjilati Penisku, tak terasa Penisku segera mengeras. Brenda senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali Penisku itu, kali ini sambil dikocok-kocok dengan tangannya.
Sekali lagi Gue disiksanya dengan rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada tara seperti ini. Ah.., tak kuasa Gue menahan desahanku.
“Maulana, kumasukan ya punyamu?”, tanya Brenda.
“Nanti kamu sakit, gak??”, tanyaGue. Gue sudah tak bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya Penisku dikepit oleh Memeknya.
“Ya, kalau Gue yang ngontrol sih, gak sakit”, kata Brenda.
“Ya udah, kamu yang di atas aja,” kataGue kepadanya.Brenda segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya Penisku menuju liang Penisnya. Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung Penisku ke dalam. Terasa sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punyaGue di sana utk beberapa saat. Gue diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini punyaGue masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya.
Sudah sepertiga dari panjang Penisku yang berada dalam Memeknya. Dia diamkan lagi Penisku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit. Sakit?, kutanya. Iya, tapi gak apa2. , jawab Brenda. Kemudian ia mendorong Penisku makin dalam, hingga akhirnya semua Penisku tertelan di dalam Memeknya. Terasa basah dan hangat Memeknya. Nikmat dan geli sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Brenda mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Ahh.. enak sekali menikmati Penisku terjepit dalam Memek Brenda. Gerakan pantat Brenda membuat Penisku terkocok, dan segera Gue merasakan kenikmatan yang tiada tara. Brenda pun seakan-akan begitu.
“Ohh.. ohh.. ohh.. ohh”, Brenda mengerang-ngerang.
Brenda terus menggerakan pinggulnya naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku. Namun, ternyata Brenda tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang berputar. Sepertinya Brenda sangat menikmati gerakan ini, terbukti erangannya semakin sering.
“Ah.. ah.. ahh.. ahh..”, desahnya terus, tanpa henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Brenda makin merintih.
“Sssh.. ssh.. sshh.. enak Maulana.”
Makin lama gerakan Brenda makin cepat. Maulana, Gue mau keluar lagi, Maulana.. rintihnya. Gue pun merasa Penisku berdenyut kencang. Brenda, tolong lepaskan, Gue mau keluar, kataGue. Gue takut sekali kalau sampai Brenda hamil. Tapi Brenda tidak mau melepaskan Penisku. Ditekannya kuat tanganku dengan kedua tangannya sehingga Gue tidak bisa melepaskan diri darinya. Tiba-tiba kurasa Penisku menyemburkan cairan kuat di dalam Memeknya.
“ Aduh, Brenda, jangan.. nanti kamu hamil..”, teriakku, sesaat sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku sudah keluar dalam Memeknya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot Penisku mengerut, dan menjadi kecil kembali.Brenda dengan kecewa melepaskan Penisku. Brenda, kalo kamu hamil gimana, tanyaGue dengan setengah takut. Tenang aja, Maulana. Gua pake alat kontrasepsi kok.
“Kamu gak perlu takut, ya?”, kata Brenda menenangkan diriku. Kemudian, Brenda segera memijat-mijt Penisku. Dielus, dan di kulum lagi seperti tadi.
Tak lama, Penisku segera mengejang lagi. Segera Penisku dimasukan lagi oleh Brenda ke Memeknya. Kembali Brenda melakukan gerakan maju mundur tadi.
“Ooggghhhh.. Oouuuhhhh.. OouuUuuhh.. OoUuuuhh, erangnya”. Kuremas lembut toketnya.
“Ssshh.. sshh.. sshh”, begitu terus rintihannya. Selama beberapa saat Brenda mengocok Penisku dengan Memeknya, sampai akhirnya dia berteriak. Maulana, Gue hampir keluar, desah Brenda. Segera Brenda mempercepat gerakannya. Gue pun membantunya dengan menggerakan pinggulku berlawanan dengan arah gerakannya.
“Ahh.. Maulana, Gue keluar”, desahnya agak keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum rubuh ke dalam pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya. Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi hari.
Alangkah Indahnya Hidup ini dibuat oleh Brenda dan Gue tak akan pernah melupakan kenangan terindah di malam pertama bersama Brenda walaupun kini Gue gak tau kabarnya si Brenda ini.


0 komentar:

Posting Komentar